Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Orang yang melupakan keberadaan dirinya telah kehilangan pijakan hidup.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Kehilangan Pijakan Hidup
“Lupa daratan,” adalah ungkapan (idiom) yang mau mendeskripsikan tentang kondisi batin seseorang yang telah kehilangan kesadaran diri atau pun bersikap berlebihan setelah ia meraih kesuksesan. Dalam hal ini sejatinya, ia telah kehilangan pijakan hidupnya.
Kondisi miris ini masih erat bermakna dengan ungkapan ‘ibarat kacang melupakan kulit.’ Mengapa demikian? Di balik kedua ungkapan ini, terdapat kesamaan makna, yakni sama-sama kehilangan jati diri atau identitas diri, setelah mendapatkan kesuksesan hidup. Bukankah seseorang yang lupa daratan itu ibarat kacang yang melupakan kulitnya?
Betapa Vital Identitas Diri
Sungguh betapa mengerikan, jika ternyata ada orang atau sekelompok orang, atau sebuah bangsa yang telah kehilangan identitasnya. Bukankah dalam kondisi ini, orang atau bangsa itu, justru telah kehilangan identitas sebagai tanda pengenal sebagai ciri khasnya? Dalam konteks ini, orang atau bangsa ini, justru telah kehilangan jati diri sejatinya. Oleh karena itu, sungguh betapa vitalnya sebuah identias sejati.
Identias Sejati adalah sebuah Harga Diri
Pribadi atau bangsa yang tidak beridentitas adalah sesosok pribadi atau sebuah bangsa yang tak memiliki harga diri. Kehadiran dan keberadaanya di mata sesama atau dunia, hanya dipandang dengan sebelah mata alias diremehkan.
Kini sadar dan mengertilah kita, mengapa betapa marah serta tersinggungnya seseorang atau sebuah bangsa, jika harga diri atau kedaulatannya itu dilanggar oleh sesama atau bangsa lain.
Amanat di Balik Tulisan
Apakah amanat dan tujuan terselubung di balik spirit tulisan ini? Bukankah di balik setiap tindakan manusia, pasti memiliki sebuah tujuan?
Oleh karena itu, hendaklah di dalam arena hidup ini, agar kita senantiasa hidup dengan sadar dan tahu diri. Kita juga tidak mudah dan gegabah meninggalkan identitas serta harga diri kita; apa pun alasan dan latar belakangnya.
Camkan, bukankah tulisan ini pun bertolak dari sebuah sikap batin manusia yang dengan mudahnya kehilangan kesadaran diri alias kehilangan pijakan setelah meraih kesuksesan?
Sungguh, di dalam konteks ini, ternyata betapa gampangnya kita untuk mengaburkan identitas kita sebagai sebuah jati diri. Inilah sebuah kehilangan yang patut kita ratapi.
Maka, jangan sekali-kali Anda pun saya untuk melupakan identitas diri!
“Melupakan daratan,” berarti Anda akan tercebur ke dasar samudra dan tercabut dari akar kehidupan ini.
Camkan itu!
Kediri, 10 Juli 2025

