“Berkata dan bersikap jujur itu sulit, karena ternyata banyak di antara kita yang senang berbohong untuk mencari aman.” -Mas Redjo
Pabrik batal mengirim barang ke tempat saya, karena banjir itu dapat dimengerti dan dipahami. Saya pun maklum.
Ketika keesokan hari orang pabrik itu beralasan kirim rute pertama, dan berangkat jam 10 pagi. Tapi konyolnya sampai di toko jam 14.30. Padahal biasanya dari pabrik ke toko itu ditempuh paling lambat 1 1/2 jam. Jalanan macet atau koordinasi di dalam yang acak-acakan?
Rabo ini saya dibombardir omelan dari pelanggan, karena orderannya batal saya kirim. Saya rugi waktu, karena menunggu dan dibohongi orang pabrik. Kiriman barang ke pelanggan lain juga terbengkelai, dan saya diomeli lagi. Saya harus gantian marah ke orang pabrik? Tidak!
Emosi itu membuat pikiran ini jadi kemrungsung dan tubuh pun lemah; sekaligus bukti emosi kita labil, karena gagal mengendalikan diri.
Saya bersyukur, karena sejak awal berbisnis telah membiasakan diri bersikap jujur. Karena kejujuran itu mahkota jiwa untuk dipercaya relasi bisnis.
Saya juga mengatur ‘spare waktu’ janji dengan pelanggan agar tidak diuber-uber pesanan barang untuk dikirim. Dengan bekerja cerdas, pikiran ini tidak kemrungsung dan uring-uringan. Sehingga saya dapat bekerja dengan rilek dan nyaman.
‘Spare waktu’ itu saya gunakan, seandainya kiriman dari pabrik itu meleset, sehingga saya dapat segera menghubungi ke pelanggan agar dimaklumi. Usaha bidang jasa itu dituntut komitmen akan kualitas mutu barang dan pelayanannya.
Dengan bersikap jujur, saya merasa lega dan nyaman. Jika pelanggan marah, saya tidak segan meminta maaf, meski tidak bersalah.
Kepada orang pabrik, saya sekadar mengingatkan untuk tidak asal janji, tapi diingkari sendiri, karena minus koordinasi. Saya meminta orang itu untuk memposisikan diri sebagai saya. Karena mencari pelanggan itu susah. Memberi maaf itu mudah. Tapi, jika pelanggan itu pindah ke lain hati. Siapa yang rugi?
Bekerja itu tidak asal kerja dan demi digaji. Tapi dituntut untuk tanggung jawab, karena kita merasa memiliki perusahaan itu yang jadi tambang bagi keluarga.
Berbohong untuk mencari aman itu cepat atau lambat bakal ketahuan. Ketika fakta itu terbuka ibarat menampar wajah sendiri. Tapi berani jujur, karena benar itu memerdekakan jiwa, dan hidup pun tanpa beban.
Mas Redjo

