Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Aku mencari jiwaku, tapi tak kutemukan.
Aku mencari Tuhan, tapi Dia menghindar dariku.
Ketika aku mencari sesamaku,
aku malah menemukan ketiga-tiganya.”
(Abou Ben Adhem)
Tradisi Berziarah
Dalam hidup beriman, juga secara kultur, kita mengenal dan memiliki tradisi unik, yakni berziarah ke tempat-tempat khusus: tempat suci dan atau sejarah.
Makna Spesifik dari Tradisi Berziarah
Apa arti dan apa pula makna spesifik dari tradisi berziarah? Mengapa secara kultur pun religius, kita justru memiliki tradisi untuk berziarah?
Secara rohani dan spiritual, berziarah itu bukanlah sekadar sebagai suatu bentuk perjalanan secara fisik, namun sebagai suatu perjalanan rohani yang menyertakan suatu pencarian makna hidup dan pembaharuannya.
Simbol dari Seluruh Ziarah Hidup Manusia
Bahkan, tradisi untuk berziarah sebagai sebentuk perjalanan mikro (kecil), sekaligus menyimbolkan selurup proses perjalanan hidup makro kita. Di dalam proses ziarah ke tempat suci atau bersejarah, di dalamnya justru menyimbolkan seluruh proses perjalanan hidup kita di dunia ini.
Suatu Pencarian dan Ekspresi Kerinduan
Lewat proses berziarah ini, entah ke tempat suci pun ke tempat bersejarah, sejatinya sang manusia justru sedang mencari ‘apa makna dan arti sejati’ dari seluruh proses hidupnya.
Lewat proses pencarian (ziarah), itu manusia mau mengekspresikan sebentuk kerinduan yang mengalir dari dalam hatinya. Sang manusia merindukan untuk menemukan jati dirinya sendiri. Bahwa sejatinya, siapakah sang manusia itu?
Suatu Perjalanan Spiritual
Kini kian yakinlah kita, bahwa seluruh proses hidup kita, sejatinya adalah sebentuk ‘ziarah makro’ yang juga bersifat sangat spiritual. Artinya betapa kental dan vitalnya unsur campur tangan Tuhan di dalamnya. Bahwa Tuhanlah Sang Penyelenggara seluruh proses dalam ziarah hidup kita ini. Dialah Sang Alfa dan Omega.
Kini secara rohani dan spiritual pula, kita disadarkan akan makna dari kehadiran Sang Tuhan di dalam perjalanan bangsa Israel selama empat puluh tahun di padang gurun.
Secara rohani dan spiritual, sadarkah kita, bahwa pakaian di tubuh jasmani mereka pun tak terkoyakkan dan rasa haus serta perut lapar pun tidak membawa kematian?
Bukankah Tuhan telah menyediakan wadas pancaran mata air deras mengalir dan butiran mana putih (roti) tersedia di atas gurun nan kersang itu. Artinya, Tuhan telah memelihara tubuh dan jiwa kita di sepanjang ziarah hidup kita.
Kesadaran Baru Kita
Kini sadarlah kita, bahwa bukan lagi kita yang mencari Tuhan, namun sesungguhnya, Tuhanlah yang senantiasa mencari jiwa kita!
“Tuhan, hatiku tidaklah tenteram, sebelum aku sampai pada-Mu!”
(Santo Agustinus)
…
Kediri, 9 Juli 2025

