Kapan?
Pertama: saat berbaring dan tidur. Berbaring dengan tubuh yang rileks. Jika kemudian tertidur, tidur saja.
Kedua: saat berjalan dan melihat di sekitarnya. Berjalan, dan tentunya melihat dengan hati-hati.
Ketiga: di saat sedang duduk untuk menikmati suasananya, baik sedang duduk sendirian, maupun bersama dengan yang lain.
Kedua belah mata kita itu unik. Jika mata ini suka ‘shopping’, kita tidak tahan melihat barang untuk dibelinya.
Jika mata ini mata ‘keranjang’, kita tidak tahan melihat yang cantik dan ganteng.
Jika mata ini ‘genit’, kita tidak tahan untuk menggoda.
Jika mata ini peka, kita dengan mudah menangkap yang dilihat, merasakan, dan menikmatinya.
Sejatinya sesuatu yang dilihat itu bisa terbatas, tapi bisa juga melampaui dari yang dilihat, ketika kita mengembangkan imajinasi.
Kedua belah mata ini harus dirawat, dipelihara, dijaga, dituntun, dan diingatkan. Oleh siapa? Pikiran, hati, nurani, jiwa, dan roh kita.
Semoga kedua belah mata ini banyak mendatangkan berkat dan kebaikan. Tidak sebaliknya, bisa menghancurkan, karena kita tidak menjaganya.
Di sini, saat ini, aku memanjakan kedua belah mata, supaya dia bisa menikmati bersamaku. Sebab keduanya sudah membawa ke mana saja kakiku melangkah: Dari Indonesia ke Filipina, lalu ke Indonesia, dari Indonesia ke Macau, lalu ke Hongkong. Akhirnya dari Hongkong ke Macau.
Bagaimana dengan kedua belah matamu? Ke mana saja menuntun langkahmu?
Rm. Petrus Santoso SCJ

