“Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia” (Gal 6: 14).
Seorang Ibu berkata pada anaknya yang sedang mengeluh, karena salib dan pencobaan hidup: “Nak, kalau mau jadi orang Kristen kita harus berani memikul salib.” Salib identik dengan orang Kristen dan orang Kristen identik dengan salib. Karena dengan salib kita memeroleh hidup: Salib Kristus mengalirkan keselamatan seperti sungai kepada seluruh umat manusia, maka sudah layaklah kita sebagai para pengikut-Nya bermegah dalam salib. Tentu saja kita tidak dapat memikul salib dengan menggunakan kekuatan kita sendiri, kita harus mengandalkan kekuatan yang berasal dari Tuhan kita Yesus Kristus, karena Ia sudah lebih dulu memanggul salib yang berat dan rela mati di atasnya demi kita semua. Kita juga tidak boleh melupakan, bahwa peristiwa salib membawa kita pada peristiwa kebangkitan. Tanpa salib tidak ada kebangkitan dan tanpa kebangkitan peristiwa salib itu tidak ada makna sama sekali. Oleh karena itulah, ketika salib-salib kehidupan terasa berat, kita harus memandang kepada Salib Tuhan, memandang Dia yang tersalib. Ingatlah, bahwa Ia sendiri bersabda: “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu” (Luk 10: 19).
Sr. M. Valentina, P. Karm
Minggu, 06 Juli 2025
Yes 66: 10-14c Mzm 66: 1-7.16.20 Gal 6: 14-18; Luk 10: 1-12.17-20
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

