Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tatkala tanyamu tak berjawab.
Mengapa, balik tanyamu.”
(Didaktika Teka-teki Hidup)
Hidup itu bagai Daun Pintu Tertutup
Ternyata realitas hidup ini tidak selamanya serba jelas dan transparan, bukan? Ya, sungguh, seolah-olah kita hanya mendapati daun-daun pintu kehidupan yang sedang erat terkatup. Maka, sebuah tanda tanya besar pun akan segera terpampang mesra di hadapan wajah ragu kita.
Ya, ada apa ini, mengapa koq semua hal tampak tidak pasti dan serba ragu? Fenomena serupa ini akan turut menghiasi dinamika wajah hidup ini. Semoga, engkau jangan mau berlangkah mundur. Tetaplah bersabar untuk menantikan sebuah sahutan bagimu.
Dunia Lupa akan Tujuan Hidup
Hari ini dan kemarin, dan tentu juga besok, bahwa dunia kita ini selalu sangat sibuk dan mati-matian berjuang untuk meraih suatu keberuntungan. Maka, apa pun itu akan dipertaruhkannya demi: sekerat gengsi, sebuah nama besar, status sosial yang selangit, tingginya derajat dan pangkat, serta tentu juga harta duniawi. Salahkah itu, mungkin saja untuk sementara, tidak. Tapi, ada yang sedang manusia lupakan. Bahwa ternyata…
“Urip iku mung Numpang Ngombe”
Manusia telah lupa akan apa isi, sasaran, dan tujuan hidupnya. Ia terlampau sibuk dengan maunya sendiri dan kelekatannya pada suatu yang bernilai materi belaka. Itulah sebabnya, banyak pertanyaan yang ternyata belum mendapatkan sahutannya. Mengapa? Ya, karena manusia sudah tenggelam dalam kubangan lumpur arus zaman edan ini.
Manusia sungguh sudah tidak mau tahu, bahwa keberadaannya di jagad hidup ini, justru hanya sekadar numpang untuk meneguk secangkir kopi pahit. Setelah itu ia harus meneruskan berlangkah lagi, dan juga untuk suatu yang serba tak pasti.
Bukankah kondisi ini merupakan sebuah tanya yang tidak ada sahutannya? Itulah sebuah ketakpastian yang kelak melahirkan sebuah keraguan. Jadi, hidup ini hanyalah sebuah absurditas belaka.
Jadi Dewasa Sejati
Kepada manusia sering dinasihati, agar ia berhati-hari dan cermat untuk bersikap di dalam hidup. Pilih dan sikapi dengan benar, mana isi dan mana yang hanya sebagai bangkai kucing dalam hidup yang serba keras ini.
Dalam konteks ini, mengapa justru betapa sulitnya kita untuk menerima sebuah sahutan di dalam hidup? Bukankah hal ini sebagai ekses dari sikap ketidakdewasaan kita? Ya, ternyata betapa sulitnya kita untuk jadi pribadi dewasa sejati.
Kita telah Tersesat
Kini sadarlah kita, bahwa ketidakharmonisan hidup ini, justru lahir dari sikap ketidakpedulian kita sebagai dampak dari ketersesatan hidup kita. Artinya, kita sudah menutup mata kepala dan mata hati kita untuk memandang sesama sebagai partner hidup. Namun, fakta hidup telah membuktikan, bahwa sesama kita, kini bahkan sudah berperan sebagai saingan dan musuh bebuyutan kita.
Kita telah kehilangan segala-galanya. Bahkan kehilangan jati diri ini. Kita sungguh telah jauh tersesat di rimba raya ketakberdayaan hidup. Maka, kita tidak pernah sanggup lagi untuk menerima sebuah sahutan dalam hidup ini. Kita seolah hidup di dalam dunia yang telah mati. Setiap saat pula, kita akan menghirup udara busuk berupa persaingan dan persengketaan.
Marilah kita kembali ke dalam hakikat hidup kemanusiaan kita sebagai makhluk sosial dan setia kawan. Dari sanalah kerinduan kita akan terjawab, berupa suara sahutan atas aneka tanya kita.
“Homo homini socius”
(Manusia adalah sesama, satu bagi yang lainnya).
Kediri, 6 Juli 2025

