Simply da Flores
1.
Hai, para Penulis Syair Perang!
Apakah orangtua kalian pembunuh
dan disusui Ibumu dengan senjata?
Sepertinya nafasmu menghirup bara dendam kesumat
Sepertinya darahmu kobar api pembunuhan
dan makananmu peluru dan roket
Minumanmu racun penghancur sesama dan alam
Benarkah demikian?
2.
Hai, para Pelukis Sosok Perang!
Wajahmu garang tersenyum sinis
pada ujung kuas melukis maut
Tubuhmu berlumur darah merah hitam
Jemarimu bangga merobek tubuh korban
jadikan warna pada kanvas keserakahmu
Engkau menggores mantra darah
“Jika mau ciptakan damai,
teruslah kobarkan perang”
3.
Hai, Penulis Syair Perang!
Kalian merenda kata-kata iri dengki
Kalian menyulam ayat-ayat pabrik persenjataan
Kalian menggubah bait permusuhan
Kalian terbitkan buku peperangan berseri
Kalian bangga lahirkan perpustakaan kehancuran
yang berisi kisah cerita kebrutalan
“Menang jadi abu,
Kalah jadi arang
Perang adalah doa mantra sakral
yang menjamin harkat dan melahirkan Surga”
4.
Hai, para Pebisnis Syair Perang!
Kalian hebat membuat iklan persenjataan
yang membenarkan kobar bara api perang
sebagai jalan menciptakan damai
Perang adalah demi harkat martabat manusia
Maka kalian berlomba kuasai media sosial
dan ajarkan generasi belajar saling membunuh
sebagai panggilan hakiki kehidupan
Sampai kapankah keserakah kalian
menghalalkan perang demi gengsi, kuasa dan harta?
Apakah anak cucumu bisa hidup
di atas puing-puing dan kerusakan alam ini?
Sampai kapan kalian berpesta di atas darah daging jutaan korban?
5.
Hai, para Pemilik Syair Perang
Jawablah kami yang tak punya senjata
yang ingin hidup tanpa pembunuhan
yang pasti membutuhkan alam lingkungan untuk lanjutkan kehidupan
Apakah kesehatan ragamu dijamin peluru, roket dan rudal
Mengapa biaya pabrik senjata dan perang tidak untuk yang miskin kelaparan dan lara nestapa?
Apakah nafasmu adalah api
Adakah jiwamu adalah pembunuhan dan pemusnahan?
Ataukah doa dan Surgamu adalah perang?

