Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sepasang mata dan kesadaranmu
adalah dunia mikromu.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Dunia Mikro dan Makro
Diriku ini dan dirimu itu, juga diri dari sesama kita adalah ‘dunia mikro’ alias dunia kecil dari Anda, saya, dan juga sesama kita. Sedangkan dunia besar alias ‘dunia makro’ adalah semesta raya ini. Jadi, sungguh betapa kecil kita ini. Kita ini ibarat (hanya) ‘setitik debu’ di atas jagad hidup ini. Namun kecil itu bukan berarti tidak bermakna.
Sadar Diri dan Sadar Ada
Secara rohani spiritual, hidup kita ini sungguh bermakna dan bertujuan luhur serta mulia. Kehadiran dan eksistensi dari totalitas kehidupan manusia adalah sebuah ekspresi suci dari aliran rahmat Allah (gratia Dei).
Karena itu, hendaklah kita senantiasa ‘sadar diri dan sadar ada’ akan seluruh anugerah serta kharisma hidup yang dicurahkan secara gratis ini. Pernahkah Anda membeli segalon udara agar Anda bisa bernafas dan tetap bisa hidup? Pernahkah kita kehabisan siraman sinar mentari demi suburnya tanaman di ladang kita? Ataukah pernah Anda dan saya dilahirkan ke dunia maya ini, tanpa dilengkapi sepasang biji mata serta kesadaran penuh agar kita dapat berpikir waras dan sekeping hati agar kita turut merasa?
Ada Sepasang Mata dan Sepasang Sayap Hidup
Tulisan reflektif ini berjudul, “Kehidupan itu Bermata dan Bersayap.” Artinya kita manusia, diciptakan dan diaruniai secara gratis dengan sepasang organ mata secara fisik dan sekeping kesadaran nurani secara mental spiritual, agar kita dapat berpikir dan turut merasa. Ya, sejatinya, bahwa manusia itu bukanlah sebalok ‘beton.’
Namun kita adalah manusia yang memiliki jiwa dan badan, yang adalah satu kesatuan utuh total dan bukanlah sebagai sebuah dualisme.
Karena ‘mata’ adalah simbol dari ‘dunia mikro’ kita dan ‘matahari’ sebagai simbol dari ‘dunia makro’ kita. Selain itu, ‘sepasang sayap’ pun menyimbolkan seutas ‘harapan dan cita-cita hidup manusia.’ Maka, seorang anak manusia menyimbolkan sebuah ‘dunia mikro’ dari totalitas semesta raya ini.
Jadi sungguhlah tepat dan benar, bahwa realitas dari kehidupan ini sebagai sebuah anugerah dan rahmat dari Tuhan. Untuk itu, kita harus bertanggung jawab atas kehidupan ini. Bukankah kehidupan ini sebagai sebuah pemberian yang mutlak kita pertanggungjawabkan kepada Sang Al Khalik?
Maka, di dalam hidup dan kehidupan ini, patutlah kita bersyukur kepada Sang Pemberi hidup, karena mata dan sayap hidup yang telah dikaruniakan secara gratis kepada kita.
Refleksi Penutup
“Berbahagialah orang yang dapat melihat dengan matanya dan sanggup mengangkasa lewat sayap-sayap sadarnya!”
Kediri, 5 Juli 2025

