“Rasa bosan itu datang dari si Jahat, karena kita kehilangan rasa bersyukur.” -Mas Redjo
Faktanya, kita mudah sekali bosan dengan hal-hal kecil, sederhana, dan remeh. Kita bosan bekerja kasar, makan nasi minim lauk, bosan menderita, dan seterusnya. Karena kita terbiasa mendongak ke atas, leher ini jadi kaku dan sakit. Dengan melihat ke bawah, ternyata banyak orang yang keadaannya di bawah kita agar kita mudah bersyukur, karena dilimpahi sehat.
Selalu bersyukur untuk menikmati hidup itu yang saya lakukan. Saya dianugerahi hidup, kesehatan, dan keselamatan jiwa, karena percaya dan mengimani Tuhan. Caranya adalah dengan menyangkal diri, memanggul salib, dan mengikuti-Nya.
Dengan menyangkal diri, saya terus belajar dan berjuang mengecilkan ego ini. Jika ingin hidup mapan dan sejahtera, ya, tidak harus mengeluh dan malas. Tapi agar saya berjuang dengan gigih, sabar, dan pantang menyerah.
Begitu pula dengan status saya saat ini. Sebagai penulis di ladang Tuhan, saya berusaha melayani, dengan hati. Saya menulis tidak untuk mencari pujian, kehormatan, dan pencitraan diri. Tapi untuk memaknai hidup saya agar makin
rendah hati.
Jika tujuan menulis sekadar untuk menyenangkan orang, memancing konflik, berisi ujaran kebencian, dan hal-hal buruk serta yang negatif itu mudah. Tapi menulis hal-hal baik dan positif, serta jauh dari prestise itu berarti saya harus menyangkal diri untuk mengalahkan ego dan melepas belenggu bosan.
Hal itu tidak mudah, tapi saya harus menjalani dengan patuh, taat, dan setia. Karena dipercaya dan dipilih-Nya, saya tidak menolak, kecuali mengucap syukur atas anugerah-Nya.
Saya berusaha menulis dan berbagi hal-hal baik dan positif dengan hati, karena didasari kasih.
Sejatinya, ketika bekerja di ladang Tuhan dengan tulus hati, upah kita adalah jaminan hidup kekal dalam Kerajaan-Nya.
Terpujilah Tuhan.
Mas Redjo

