Hidup kita itu dilihat oleh orang lain dari segala sudut. Penglihatan yang tepat dan tulus menempatkan kita pada posisi yang istimewa. Pada saat itulah kita dibuat bahagia. Apa yang dikatakan itu dilihat dari hal-hal baik yang kita lakukan. Hal itu membuat kita makin bersemangat untuk berbuat baik.
Bagaimana kita bisa melakukan hal-hal baik itu?
- Pertama, kita sudah mengenali talenta yang dianugerahi Tuhan yang Maha Murah.
- Kedua, kita sudah selesai dengan diri sendiri. Artinya, memiliki cinta yang penuh pada diri sendiri.
- Ketiga, kita bisa membagikan sesuatu yang bisa diterima dengan baik.
- Keempat, kita selalu memilih yang mendamaikan hati.
- Kelima, kita menghindari segala bentuk kamuflase. Yang baik itu tetap baik. Mau diapa-apakan juga tetap baik.
Itulah yang dilihat! Dari yang dilihat itu kemudian orang bilang, “Kamu baik.” Mendengarkan hal itu, lalu kita bilang, “Sejak semula Tuhan menciptakan kita sungguh amat baik.”
Pesannya jelas: segala ciptaan itu mesti dilihat tetap baik. Mengapa kemudian jadi ‘tidak baik’, misalnya dari komentar seseorang. Mungkin, karena kita sering melakukan hal-hal yang tidak baik (dilihat ataupun tidak dilihat oleh mata manusia). Semestinya, kita tetap melakukan hal-hal yang baik, dilihat (atau tidak dilihat). Itu yang membuat kita tenang dan tentram.
Rm. Petrus Santoso SCJ

