Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Dari forum dialog antar agama”
Bersama M. Quraish Shihab dan Kardinal Ignasius Suharyo.
Mengaca Diri dari Balik Kemelut
Bertolak dari fakta riil, bahwa adanya paham atau aliran beragama yang telah menampilkan sisi-sisi kehidupan yang terkesan sangat ekstrem, bahkan beringas, lewat sikap intoleran, yang bahkan dapat melahirkan kemelut.
Maka, dialog ringan antar kedua sahabat baik ini sebagai sebuah pantulan dari selembar potret buram kehidupan. Lewat forum dialog ini, keduanya sanggup menawarkan berbagai gagasan brilian, tentang hakikat hidup keagamaan itu.
Titik Temu Agama-agama
Dialog gayeng ini diawali dengan sebuah sentilan ringan, bahwa “Seharusnya jika orang makin paham akan ajaran agamanya, maka orang itu justru kian toleran dalam hidup.”
Bukankah hakikat keagamaan itu di mana-mana justru sama? Hanya tentu, faktor ajarannya yang berbeda-beda, namun hakikatnya hanya satu dan sama, yaitu kemanusiaan. Jadi, titik temu antar umat beragama adalah sisi kemanusiaan.
Bagi Tuhan, kita tidak perlu harus beragama dan agama itu tidak dapat dipaksakan atau diseragamkan. Karena bukankah Tuhan sendiri telah menciptakan perbedaan-perbedaan?
Tuhan hanya memohon, agar kita senantiasa bersikap tulus dalam beragama. Maka, marilah kita berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan itu.
Dialog Kehidupan
Dalam hidup sehari-hari, mengapa kita tidak mempraktikan hal-hal yang baik? Dicontohkan, bahwa jika di sebuah desa ada pohon mangga yang menghasilkan buah, maka bagikan buah-buah itu kepada semua penduduk desa, entah apa pun agamanya. Karena inilah contoh nyata dari sebentuk dialog kehidupan.
Lewat praktik hidup seperti ini, berarti kita telah berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan. Karena bukankah praktik hidup serupa itu tergolong sebagai sebentuk dialog kehidupan?
Sejatinya apa pun agama dan aneka ritusnya, dari umat beragama apa saja, hanya memiliki satu titik temu ialah hal ‘kemanusiaan.’ Itulah hakikat sejati dari hidup berkeagamaan.
Amanat dari Tuhan
“Bukan semua orang yang berseru Tuhan, Tuhan yang akan masuk ke dalam kerajaan Surga, melainkan mereka yang telah melakukan kehendak-Ku.”
(Sabda Tuhan)
Kediri, 4 Juli 2025

