Simply da Flores
Desah nafas menulis kisah cerita
tentang putihnya ayat-ayat susu
dalam merahnya irama desir darah
setiap putra-putri pewaris kehidupan
Yang diamanatkan mantra suci kelahiran
“Syair kasih
dari air mata cinta Ibu
Bait cinta dari senyum tawa Ibu
Sajak doa abadi setiap Ibu
Panggilan semesta harkat Ibu
Fakta dan misteri martabat Ibu”
Putihnya ayat-ayat susu Ibu
Adalah lembaran perjuangan tak bertepi
Adalah alat tulis jemari Ilahi
Adalah aliran sungai sepanjang musim
Adalah luas samudera yang diam
Bagi generasi untuk menulis zaman
Bagi anak cucu menenun peradaban
Namun
dinamika perubahan mungkin mengabaikan
bahkan warnanya telah tergantikan
dengan selera dan keserakahan
Ayat-ayat putih susu Ibu
sejatinya terpatri mantra Ilahi
agar setiap anak jadi pribadi
dalam keutuhan jasmani rohani
Menjadi sosok pembawa damai
Menjadi duta cinta bagi sesama
Menjadi cahaya bagi dunia
Menjadi harmoni bagi semesta
karena dimeterai ayat sakral mantra putihnya air susu dari Mama
Sering terdengar sayup dan sirna
“Kasih anak sepanjang galah
Kasih Ibu sepajang masa”
karena energi ayat-ayat putih susu
dari kasih cinta sang Ibu
Namun,
Fakta peradaban melukis warna-warni
suka duka terjadi silih berganti
Karena aneka problema dan alasan
ayat-ayat putihnya susu Ibu
telah menjelma wajah biru galau
bahkan berinkarnasi jadi pelangi bisu
dalam gemerlap pesona digital
Kreasi arus gelombang milenial

