Simply da Flores
1.
Teringat penggalan teks usang
dari lakon sebuah drama kecil
“Setetes kasih di ujung pistol
Sepercik cinta di hulu senjata”
Ada kejutan kudus di nalar pemilik senjata
untuk batalkan gerakan jemari
saat hendak menggunakan senjata
untuk membunuh para musuh
Karena sadari dirinya membutuhkan hidup
maka harus menjaga hidup sesama
Benarkah pernah ada dan terjadi
Sungguhkah energi kasih cinta kalahkan permusuhan dan senjata?
2.
Seorang penulis lagu menggubah syairnya
“Berbagai kejahatan kini menimpa dunia
Kemiskinan kelaparan mewarnai kehidupan
Manusia seakan kini tak peduli lagi
berbuat segalanya sekehendak selera
Butiran logam kini mencabut nyawa
Senjata canggih hancurkan alam
pemukiman harta benda dimusnahkan
atas nama kuasa dan gengsi”
Adakah kasih cinta di sana
Apakah lagu dan doa bisa hentikan perang?
3.
Seorang seniman berdoa dengan lagunya
“O Tuhan, pandangkah dunia ini
Dunia yang penuh dengan kerinduan hampa
Yang penuh dengan kebencian dan penidasan
serta pemalsuan nilai hidup ini
O Tuhan…
dalam dunia kami saat ini
Masihkah cinta membias
Masihkah terang kasih bersinar
Masihkah Engkau berarti bagi manusia?”
Lalu dia bertanya pada Pencipta
“Adakah seorang Nabi yang relakah bersaksi
tentang cinta dan damai-Mu, Tuhan”
Dia telah bernyanyi di alam baka
Lagunya masih bergema digaungkan
Adakah yang mendengar dan memaknai?
4.
Syair lagu itu mengetuk sanubari
Seruah doa itu menyapa kesadaran
Rindu damba itu membelai nurani
“Biarkanlah kami menjadi saksi-Mu
bagai dian di persada-Mu indah
Pembawa kasih-Mu abadi
Cinta-Mu paling lestari tiada bertepi
Betapa rindunya hatiku bernyanyi
dalam ziarah hidupku yang bahari
Di atas pucuk idamanku
terhembus nafas hidup-Mu
Bersemi dunia citra-Mu yang indah”
Benarkah untuk ciptakan damai harus siapkan perang?
Sudah hilangkah energi kasih dan cinta Ilahi?
5.
Menyaksikan kekejaman perang
dan aneka kejahatan yang terjadi
mencabut nyawa sesama dan merusak alam lingkungan
Ada yang tak mampu mengerti
Mengapa jeritan orang lemah tak berdaya
dengan doa dan segala ritual
dengan aneka upaya kemanusiaan
Tetapi sepertinya sia-sia belaka
karena sepertinya kejahatan berpesta pora
dan kebaikan tak berdaya hancur sirna
Maka ada yang berteriak menggugat
kepada Sang Pemilik seluruh semesta
“Mengapa tidak membela nasib kami
Di manakah kuasa dan keadilan-Mu”
Dan akhirnya dia membuat kesimpulan
pada puncak doa ketakberdayaanya
“Allah sudah mati”
Sebuah fakta dan misteri pengalaman

