Dalam kisah indah tentang Yesus yang menenangkan badai di danau, kami melihat cerminan batin kami sendiri, antara rasa takut dan iman. Para murid mewakili setiap dari kami yang sedang mengarungi lautan kehidupan.
Mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang luar biasa: Yesus tertidur dengan tenang di tengah badai yang dahsyat. Lalu, Ia bangkit, berdiri menghadapi badai, dan menegurnya seolah-olah itu hanya hal sepele. Badai itu pun reda! Tak heran mereka bertanya dengan takjub: “Siapakah orang ini?”
Siapakah Yesus, Putra-Mu?
Ia adalah pribadi yang penuh komitmen terhadap misi-Nya. Saat dibangunkan, Ia tidak marah atau kesal. Sebaliknya, Ia menggunakan momen itu untuk membentuk iman para murid: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?”
Yesus adalah Guru yang membimbing, bukan hanya lewat pengajaran, melainkan lewat setiap badai hidup.
Ia juga adalah pribadi yang memiliki otoritas Ilahi. Bukan otoritas manusiawi seperti raja dunia, melainkan kuasa sebagai Putra Allah. Ia adalah Tuhan atas angin dan gelombang. Bahkan alam tunduk pada suara-Nya.
Namun lebih dari itu, Yesus bukan sekadar manusia: Ia adalah Allah yang berbelas kasih. Sama seperti Engkau mengulurkan tangan-Mu dan menyelamatkan Lot dari kehancuran Sodom, Engkau juga mengutus Putra-Mu untuk menyelamatkan kami dari badai dosa dan maut. Di balik semua kekuatan Ilahi-Nya, kami temukan hati yang penuh kasih dan kerahiman.
Bapa, mungkin saat ini ada yang sedang membaca doa ini dari ranjang rumah sakit, dalam depresi yang mencekam, atau baru saja kehilangan orang terkasih. Seperti para murid yang berseru, “Tuhan, selamatkan kami!” Semoga kami belajar berseru kepada-Mu, mempercayakan badai kami kepada Tuhan yang hadir, meskipun Ia tampak tertidur.
Sesungguhnya, Engkau tidak pernah tertidur. Kasih setia-Mu tak pernah goyah. Ketika kami bangun dan berseru, Engkau datang seperti kepada Lot. Bukan karena kami layak, melainkan karena Engkau penuh kerahiman. Engkau menarik kami ke luar dari reruntuhan, dan memimpin kami ke tempat yang aman.
Tuhan, ajar kami untuk hidup bukan dengan ketakutan, melainkan dengan iman. Bukalah mata kami untuk melihat Yesus yang hadir di tengah badai kami. Kami ingin hidup dalam kasih-Nya dan mengandalkan kuasa serta kerahiman-Nya yang tak terbatas itu.
Amin.
Refleksi:
Kasih Allah tidak menjanjikan langit selalu cerah, tapi menjamin, bahwa tidak ada badai yang lebih besar dari belas kasih-Nya.
*HD *
(Bapak Herman Dominic dari paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

