Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Setangkai pena adalah
simbol dari seluruh potensi dan aneka prestasimu.”
(Didatika Hidup Sadar)
Sebuah Amanat Hidup
“Menulis dan muntahkan saja di atas sehelai sejarah tentang seluruh kisah kehidupanmu sebagai ekspresi dari seluruh ziarah hidupmu.” Demikian amanat sang Kakek sambil menyodorkan setangkai pena kepada Cucunya.
Ketika Cucu itu tampak ragu-ragu, maka berkatalah sang Kakek, “Menulislah tentang apa saja yang telah, sedang, dan akan engkau alami. Ingatlah, bahwa di dalam setangkai pena ini, Kakek telah meneteskan tetesan tinta. Maka, sekali lagi Cucuku, segera menulislah dengan sesuka hatimu.”
Lalu sang Kakek beranjak pergi dan hingga kini, ia tidak pernah kembali. Sehingga Cucu itu akhirnya mulai bertindak demi mewujudkan isi amanat dari sang Kakek.
Sebuah Warisan Amanat yang perlu Dipertanggungjawabkan
Jika dinamika hidup itu dianggap sebagai sebuah proses panjang, maka sikap kesetiaan dan kesediaan untuk melakukan isi amanat itu adalah sebuah sahutan sebagai sebentuk tanggung jawab.
Sebuah warisan itu diterima secara turun-temurun. Kakek mewariskannya kepada anaknya, dan anak mewariskannya kepada anaknya yang disebut Cucu…
Apa wujud konkret sebagai upaya dari sebuah tanggung jawab?
Semua itu sangat bergantung pada kesetiaan, ketulusan, dan sikap konsistensi dari si penerima warisan itu. Jika ia setia dan bersikap konsisten, maka isi amanat itu akan tetap utuh dan terjaga. Namun sebaliknya, jika si penerima warisan itu lalai dabn tidak konsisten, maka ia telah mengkhianati isi amanat itu.
Di dalam konteks ini, si anak dan atau si Cucu, justru telah gagal melaksanakan isi amanat agung dari sang Kakek. Artinya tidak semua potensi sebagai warisan itu telah mereka perjuangkan dan dimenangkan dengan cara mempertahankan keutuhan sesuai isi amanat dari sang Kakek.
Itulah sebabnya, ketika sang Kakek menyerahkan setangkai pena, maka dikatakannya, “Tuliskan dan muntahkan seluruh potensi hidupmu dalam sehelai sejarah hidupmu.”
Itulah sebabnya, mengapa betapa pentingnya sikap kesetiaan dan ketulusan di dalam hidup serta perjuangan ini. Sikap konsisten dan konsekuen itu laksana secangkir ramuan paling mujarab untuk menyembuhkan penyakit kelalaian kita.
Jika Anda dan saya ternyata telah bersikap setia, maka selayaknya, kita boleh menuliskan apa saja ke atas selembar sejarah kehidupan ini lewat setangkai pena warisan Kakek.
Amanat Agung
Ingatlah pada prinsip paling agung dari alur kehidupan ini, bahwa “Cinta pun akan melahirkan cinta.”
(Amor gignit amorem)
Kediri, 1 Juli 2025

