Red-Joss.com – Salah satu dari banyak buah pikiran Lao Tzu, filsuf dari China, adalah pendapatnya tentang “Air”.
“Water is the softest thing yet it can penetrate mountains and the earth.”
Yang ingin dikatakan, bahwa orang dikatakan ‘bajik’, jika perilakunya ‘bijak,’ ibarat air. Tidak jumawa. “This clearly demonstrates the principle of gentleness overcoming violence”.
Seirama dengan filosofi Air, adalah filosofi Padi, yang nasinya setiap hari kita makan itu, mengajarkan tentang cara memaknai hidup “semakin berisi, semakin merunduk.”
Falsafah yang dekat dengan kita sejak kecil ini, ingin memberi pesan, bahwa manusia tak sepantasnya meninggikan diri. “Lha wong kita ini hanya butiran debu di antara semesta ciptaan Tuhan”. Di atas langit masih ada langit. Ada yang mengatakan, kita tak akan masuk surga, jika di dalam hati terdapat keangkuhan, meski itu hanya sebesar satu titik hitam yang kecil di selembar lebar kertas putih. Memang selayaknya kita ini harus semantiasa merunduk dihadapan Sang Pencipta, utamanya tentang pencapaian diri ini. “Merunduk seperti padi yang bulirnya makin mentes berisi.“
Namun demikian, untuk meningkatkan kadar kebajikan, ada sifat padi yang lain yang perlu kita kembangkan, yakni ‘rela ditumbuk, diinteri, ditampi jadi beras yang siap diolah demi kebutuhan sesama’.
Seharusnya, orang-orang baik dan banyak pengalaman ini lantang bersuara, berbagi ilmunya pada sesama, bahkan untuk menggerakkan peradaban ke arah yang lebih baik.
Sebab tidak seharusnya pelita diletakkan di bawah gantang dan nyalanya tidak nampak binarnya.
Maka, agar kadar kebajikan makin bertambah, selain merunduk juga siap ditumbuk.
Tetap merunduk dan siap ditumbuk demi kebaikan bersama.
…
Jlitheng

