Simply da Flores
1.
Dalam senja hening sepiku
sempat aku beranikan diri bergurau
menyapa angin melerai galau
“Angin, mari rehat sejenak denganku
Mengapa engkau berkelana selalu
Adakah tempat tinggal dan gubukmu
Ataukah di mana ada istanamu
Mari…
rehat sejenak di pondok rinduku”
2.
Angin hanya tersenyum ramah
Sambil melewati lorong nafasku
dia menuliskan pesan bagiku
“Aku ditakdirkan semesta berkelana
tak boleh rehat atau berhenti
nanti banyak yang sepi dan mati
Aku selalu setia menyertai waktu
Aku harus taat memenuhi ruang
Aku ini fakta dan misteri
Aku ada di semua ruang tempat
tapi tak memiliki satu pun”
3.
Aku diam dan kebingungan
lalu coba merenung sendirian
membaca fakta dan kejadian
Angin ada dalam jiwa ragaku
Angin ada dalam sesama saudaraku
Angin ada dalam setiap ruang bumi
Angin ada di angkasa raya
Mungkin angin hembusan nafas Sang Pencipta
meskipun jarang aku sadari
Apalagi berterima kasih dan mensyukuri
“Tanpa angin udara bagi pernafasanku
Aku pasti mati tak berdaya”
4.
Ketika angin sibuk pergi datang
aku coba berbisik lirih
“Maafkan aku sang angin
aku salah berpikir dan mengertimu
aku juga lalai berterima kasih padamu
Angin…
bisikan syukurku pada Sang Maha Waktu
yang jadi Pemilikmu
juga Pemilik jiwa raga ku ini”
5.
Angin membawa bisikan sanubariku
lalu sekejab dia hilang pergi
tak tahu entah ke mana
Karena selama ini biasa terjadi
tak jelas dari mana datang
tak pasti ke mana pergi
Angin ada di mana-mana
tetapi tidak mempunyai tempat menyepi
Angin itu fakta dan misteri
yang sadarkan aku untuk berterima kasih
yang mengajarku tahu bersyukur

