“Harta dunia itu membuat kita silau, tapi harta rohani membuat kita sujud bahagia di hadapan-Nya.” -Mas Redjo
…
Mata indrawi sering membuat kita silau terperangkap harta dunia, tapi melihat dengan mata hati membuat kita sadar diri untuk mengutamakan harta rohani dan bahagia.
Faktanya harta dunia itu mudah habis dimakan ngengat, dicuri, dan bersifat sementara. Harta rohani itu abadi, karena milik Tuhan.
Bagi saya pribadi, sadar diri untuk memahami hal itu adalah anugerah Tuhan yang luar biasa. Tujuannya agar saya tidak terlena memburu dan mengumpulkan harta duniawi yang sifatnya sementara. Tapi agar hidup saya diarahkan dan fokus menuju jalan keselamatan: hidup bahagia dalam Kerajaan Surga.
Kebahagiaan sejati itu tidak untuk dikangkangi dan dimiliki sendiri, tapi untuk dibagikan ikhlas hati pada sesama. Hidup yang terberkati adalah beriman kepada Tuhan agar kita saling mengasihi dan bahagia.
Hidup saling mengasihi, karena kita peduli, berempati, berbela rasa, dan berbagi ikhlas hati pada sesama.
Semangat kepedulian dan empati itu yang sejak dini, saya terapkan pada anak-anak agar iman mereka mengakar kuat. Mereka guyup rukun antar saudara dan saling mengasihi dengan sesama. Mereka hidup jujur dan benar, karena takut akan Tuhan.
Dengan hidup jujur dan benar agar mereka tenang tentram dalam menjalani hidup ini. Sehingga hati mereka peroleh damai sejahtera, karena taat dan setia seturut kehendak Tuhan.
Sejatinya, dengan hidup untuk berbagi pada sesama adalah anak tangga menuju Surga.
Harta rohani itu yang ingin saya wariskan pada anak cucu agar kelak keluarga besar kami disatukan dalam Kerajaan-Nya yang abadi.
…
Mas Redjo

