Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Orang boleh telanjang,
tapi pikiran kita tak harus
ikut melepas busana.
Sebab di hadapan Tuhan
yang dinilai bukan pakaian di tubuh, melainkan pakaian di dalam batin
dan seberapa tekun kita merawatnya dari robek dan noda.”
(Herry Tjahjono)
Ujian tentang Kesejatian
Saat sekelompok umat Hindu sedang duduk dan bersiap-siap untuk beribadat, maka lewatlah seorang wanita (turis manca negara), yang berbusana sangat minim ala seorang perenang.
‘Perempuan itu lewat, setengah telanjang. Mereka diam. Sebagian mungkin menahan nafas, sebagian lain menahan tafsir. Tapi tidak satu pun berdiri, berteriak, apalagi mengusir. Semua tetap duduk dalam ketenangan, mengenakan pakaian suci, menjaga kepala tetap tunduk di hadapan Yang Maha Kuasa.’ Demikian isi paragraf awal dari tulisan Henry Tjahjono.
Lalu Siapakah yang Sesungguhnya sedang Telanjang?
“Errare humanum est,” “Kelemahan atau kekeliruan adalah sifat khas manusia,” demikian makna dari adagium berbahasa Latin ini. Tentu tidaklah seorang akan membantah kebenaran dari inti adagium ini.
Selanjutnya Herry Tjahjono menulis, “Godaan terbesar itu bukan pada tubuh telanjang, melainkan pada pikiran yang terbuka terhadap hasrat. Bukan pada tubuh yang telanjang, melainkan pada ‘busana’ pikiran yang ditanggalkan. Di sinilah ujian sejati dimulai. Sebab kesucian bukan tentang lingkungan yang steril dari rangsangan, melainkan keteguhan batin dan tidak larut dalam gelombang.”
Sebuah Realitas Menantang
Fakta hidup telah membuktikan dan bahkan telah turut ‘mendidik dan mendewasakan kita’ lewat realitas hidup ini. Bahwa sering kali betapa gampang dan dangkalnya praktik hidup kita dalam mengekspresikan isi iman serta keyakinan kita. Betapa mudah kita mengadili, memojokkan, dan bahkan memberi cap jahat kepada sesama, lantaran ia tidak berbusana seagamis kita.
Dalam konteks ini, kita sudah tidak mampu lagi untuk membedakan antara praktik hidup lahiriah dengan ekspresi isi ajaran iman kita. Karena kita telah mengukur kualitas isi hidup beriman kita harus atau hanya secara lahiriah, yakni lewat ‘busana agamis dan bukan secara batiniah.’
Sesungguhnya, kita telah menyempitkan dan menyederhanakan praktik hidup beriman kita hanya secara formalitas serta lahiriah belaka. Jika praktiknya memang hanya demikian, maka alangkah dangkalnya penghayatan isi iman kita dalam hidup ini.
Bukankah sikap kemunafikan dan fanatisme buta, justru bertumbuh subur lewat kedangkalan dalam penghayatan iman dalam praktik hidup beriman kita?
Refleksi Akhir
“Siapakah yang sedang diuji, dia yang sedang berjalan ataukah kita yang menatapnya?” Demikian Herry Tjahjono mengakhiri tulisannya.
“Penghakiman adalah kewenangan-Ku dan bukanlah urusanmu.”
(Seruan Sang Kebijaksanaan Sejati)
Kediri, 28 Juni 2025

