Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kesadaran sejati adalah
sebuah kejernihan nurani.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Kesadaran itu Ibarat Sekeping Cermin
Tidak ada hal yang lebih penting dan utama di dalam hidup kita ini selain daripada adanya ‘sekeping kesadaran’. Mengapa? Anda dapat membayangkan, bagaimana kacaunya proses hidup ini, jikalau tanpa adanya sekeping kesadaran di dalam diri seorang manusia.
Kesadaran itu ibarat sekeping cermin bening yang sanggup mamantulkan kembali seluruh realitas tentang diri Anda. Baik kelebihan maupun kekurangan Anda.
Sesosok pribadi yang hidupnya serba semau gue dan acak-acakan, justru ibarat si buta yang terlunta tertatih di jalan hidup ini. Bukankah seluruh keberadaannya justru laksana si buta?
Kisah Ibu yang rela Membanting Sekeping Cermin
Tampak seorang Ibu sedang mondar-mandir dan sesekali mengomel serta bahkan akhirnya rela untuk membanting sekeping cermin dari genggaman tangannya? Mengapa?
Bunda pesolek itu sangat marah, karena sekeping cermin yang kini berada di dalam genggamnya itu, ternyata sangat kabur. Cermin itu tidak sanggup memantulkan sekeping wajah sejati dari Bunda itu. Artinya apa yang diharapkannya itu ternyata tidak terpenuhi.
Bukankah lewat kisah ini, kita dapat belajar dan bahkan mampu menyimpulkan, bahwa sungguh, betapa penting dan vitalnya sebuah kejelasan di dalam hidup ini.
Kejernihan adalah Sebuah Kesadaran
Tulisan refleksi “Pentingnya Kesadaran Sejati” itu mengungkap tentang makna kesadaran yang justru sangat vital di dalam hidup kita.
Kesadaran alias ‘consciousness’ adalah suatu kemampuan untuk memahami pikiran, emosi, dan perilaku seorang manusia. Ia adalah suatu daya mental yang dimiliki manusia di sepanjang hidupnya. Itulah sebabnya, mengapa kepada kita sangat diharapkan agar memiliki kesadaran diri.
Dalam konteks refleksi ini, sebuah kesadaran itu ibarat sekeping cermin bening sebagai sarana vital, agar manusia itu dapat melihat, mengetahui, memahami, dan menyadari sesungguhnya dirinya itu.
Kini kita mulai memahami, mengapa Ibu itu sampai rela untuk membanting sekeping cermin dari dalam genggamannya?
Alasan pertama, karena cermin itu justru tidak dapat berfungsi dengan baik dan benar. Cermin itu ternyata tidak sanggup memantulkan wajah dan diri sejati dari si Ibu. Itulah salah sebuah problema hidup kita manusia.
Pentingnya Mata, Akal, dan Hati
Organ mata untuk dapat melihat, akal budi untuk dapat berpikir, dan hati untuk dapat memahami serta menghayati makna sejati dari seluruh proses hidup manusia.
Maka, betapa pentingnya sepasang mata yang jernih, akal budi yang sehat, dan sekeping hati yang suci sebagai ekspresi dari seluruh kesadaran seorang anak manusia.
“Di antara hatiku dan hatimu, terbentang dinding yang tinggi, tak satu jua jendela di sana, agar kudapat memandangmu!
Kediri, 27 Juni 2025

