Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Komunitas kampung berkembang sesuai konteksnya. Anak-anak pun terlahir dan alami fakta zaman. Sekarang ada jalan, transportasi, sekolah, listrik dan sarana komunikasi digital.
Mengakar ke tradisi identitas budaya baru mulai, saat yang sama diserbu gelombang tsunami informasi dari sarana komunikasi digital milenial.
Anak-anak kampung, terlempar ke tengah samudera kehidupan dengan segala peluang dan tantangan zaman.
Dalam usia “Tabula rasa”, masih lugu murni, sekaligus perlu berenang dalam arus perubahan. Sedang ada dan terjadi.
Ternyata pengalaman anak-anak kampung juga dialami generasi muda, orang dewasa, dan yang sudah lanjut usia. Mereka pun menghadapi zaman sesuai kemampuan diri pribadi. Harus memilih dan memilah, untuk membuat keputusan bagi diri, keluarga, dan komunitas.
Faktanya, kemajuan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk sarana komunikasi digital, sangat tidak seimbang dengan kecepatan kapasitas ketrampilan, pengetahuan dan kecerdasan manusia.
Fakta itu terjadi pada komunitas kampung yang tradisional maupun yang di metropolitan dan bangsa maju.
Bagaimana nasib anak-anak, generasi penerus peradaban ini? Apakah menjadi robot iptek dan korban modernisasi, atau pemilik dan pengendali iptek?

