“Mawas diri itu jalan kebijaksanaan agar kita tidak mudah menyalahkan orang lain, tapi makin rendah hati.” -Mas Redjo
Mengapa anak memusuhi saya? Ia tidak pernah bertanya pada saya. Bahkan jika ditanyai bersikap tidak peduli dan cuwek!
Padahal saya bertanya, “Sudah makan? Mau ke mana? Jika pulang jangan kemalaman, Nak …” Hal-hal sederhana, tapi tidak ditanggapi dan digubrisnya.
Tidak sekadar dongkol dan emosi, sebagai Ayahnya, saya merasa tak dihargai dan dilecehkan!
Lebih konyol dan menjengkelkan lagi adalah, ketika saya dipanggil ke sekolah. Ternyata anak saya lebih dari 3 Minggu tidak bersekolah. Berangkat dari rumah, tapi membolos entah pergi ke mana. Bahkan ia ngotot tidak mau sekolah lagi, dan bahkan minta ke luar!
Kepala saya serasa mau meledak. Secara reflek saya ingin menampar mulutnya. Tapi anehnya, tiba-tiba tangan ini jadi lemas tiada tenaga, ketika saya melihat tatap matanya yang kosong itu.
Duh, Gusti! Ada apa ini? Tubuh ini lunglai. Saya terduduk lemas di lantai.
Saya dan istri mencoba mengajak anak bicara dari hati ke hati. Kami ingin mengetahui masalah yang sebenarnya, yang membuatnya jadi berubah dan tertutup. Tapi ia tidak mau terbuka dan tetap bungkam.
“Nak, tataplah Bapakmu. Ada apa sebenarnya denganmu?” pinta saya lirih menahan goncangan di hati.
Selalu, dan selalu sulit membuka mulut, apalagi untuk menjawab dan menjelaskannya. Sehingga saya jadi ‘bohwat’ dan salah sendiri. Saya mengajaknya untuk konseling, tapi ditolaknya. Mengorek rahasia lewat teman dekatnya juga sia-sia, alias gagal.
Ketika tidak menemukan jalan ke luar, saya mengadu kepada Tuhan. Saya mohon anak dijamah-Nya agar hati anak dibuka. Karena bagi saya ujian ini yang terberat, melebihi saat saya menyelesaikan masalah yang rumit di kantor.
Pikiran pada anak membuat jiwa ini tersiksa. Saya mulai mengurangi aktivitas di kantor, lalu dialihkan ke kerohanian. Membaca KS, berdoa, berdevosi, dan berziarah… Saya bersabar dan bersabar, serta berharap agar persoalan anak segera teratasi, serta tuntas.
Jujur, sifat anak saya yang sulung dan bontot itu bedanya jauh, ibarat bumi dengan langit. Si sulung yang rajin belajar itu langganan juara kelas, dan beberapa kali menang lomba tingkat Nasional. Bertolak belakang dengan si bontot. Malas belajar, senang kelayapan, pulang pagi, dan hal itu membuat dada saya sakit.
“Bisa jadi kau selalu membanding-bandingkan anakmu…”
Tiba-tiba suara lembut itu, entah datang dari mana, menggedor pintu kesadaran saya. Di ruangan doa itu tidak ada seorang pun, selain bunyi serangga malam di luar.
Saya merenung dalam tanya. Kisah serupa juga pernah dialami seorang rekannya yang aktivis di kegiatan sosial. Dia selalu membanggakan anak-anaknya yang membelikan ini-itu, hingga lupa pada anaknya yang menganggur, dan merasa terasing.
Bisa jadi anak bungsu saya minder, kecewa, dan marah, lalu menutup diri?
Dada ini serasa nyeri sekali. Saya menarik nafas panjang. Mata hati saya seperti dicelekkan. Tanpa saya sadari, sikap saya yang selalu membanggakan kakaknya telah membuat si bontot berubah jadi minder, kecewa, dan tertutup.
Saya harus berubah dan perbaiki sikap untuk merangkul si bontot agar mau sekolah lagi. Saya harus makin dekat Tuhan, karena hanya Dia yang mampu mengubah hatinya.
“Tuhan, mohon diberi kesabaran dan semangat rendah hati agar saya mampu merenda kembali ikatan kasih dengan anak saya. Sudilah Engkau mengubah hatinya, bahwa kami orangtuanya sangat menyayanginya,” bisik saya lirih. Lalu saya melanjutkan dengan berdoa Rosario…
Mas Redjo

