Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”
(Ir. Soekarno)
Idealisme Hidup
Sungguh lumrah, wajar, dan sangat biasa, jika seseorang memiliki sebuah cita-cita luhur. Idealnya, bahwa kehidupan ini sudah sangat menjanjikan bagi mereka yang memiliki cita-cita hidup. Itulah yang dinamakan sebagai sebuah idealisme hidup.
Mimpi seorang Balita
Di suatu malam gulita yang sedang ditaburi bintang-bintang, seorang Ayah membawa putranya (balita) ke luar menuju teras depan rumah dan sambil menunjukkan bintang-bintang kepada sang putra.
Tampak mata sang putra itu sangat asyik memandangi kerlap-kerlip bebatuan di langit. Tampak wajah polosnya riang menatap ke angkasa yang tengah ditaburi kerlap-kerlip gemintang.
Sesaat kemudian, sang Ayah menaiki sebuah tangga menuju ke lantai dua rumah agar jarak pandangnya jadi lebih dekat untuk menatap ke langit malam.
Apa yang terjadi? Di luar dugaan sang Ayah, ternyata kedua tangan balita itu dijulurkan ke angkasa sambil merengek meminta Ayahnya agar mengambilkan sebuah bintang baginya. Menyaksikan keadaan itu, sang Ayah berbisik kepada anaknya, “Nak, jika engkau telah dewasa nanti, silakan engkau boleh mengambilnya.”
Kini balita itu sudah bersikap lebih tenang, sekalipun mata mungilnya masih liar menatapi langit malam.
Gantungkan Cita-citamu Setinggi Bintang di Langit
Seruan atau pekikan heroik dan inspiratif itu berupa inspirasi dan motivasi adalah sebuah himbauan dari sang Presiden pada para kawula muda. Karena lewat tuturan itu, beliau justru mau menginspirasi para pemuda itu sebagai harapan bangsa agar mereka dapat bersikap kreatif dan memiliki cita-cita tinggi untuk meraih masa depan bangsa.
Bagi para pemuda yang bersikap kreatif dan bercita-cita, gemintang itu justru tidak berada di atas langit malam. Namun justru dekat, dekat, dan bahkan sangat dekat dengan diri mereka. Bukankan kerlipan bintang malam itu, justru sedang bertaburan di dalam alam sadar mereka?
Jadi sangatlah tepat sasaran bisikan sang Ayah ke telinga mungil balita itu. “Nak, jika engkau telah dewasa nanti, silakan ambilkan sendiri bintang itu sesuka hatimu.” Karena bisikan itu merupakan sebuah inspirasi dan doa serta harapan bagi balita itu.
Pentingnya Inspirasi dan Motivasi Hidup
Orangtua adalah Guru utama dan pertama bagi anak-anak. Juga sesungguhnya, ruangan dapur keluarga adalah ruang kelas pertama sebagai tempat anak belajar tentang kehidupan.
Riil pula, bahwa sesungguhnya, betapa vital dan penting bagi sang anak untuk dididik, diasuh dalam lingkup serta suasana keakraban. Maka, peran penting kehadiran orangtua lewat bimbingan dan inspirasi serta motivasi adalah anak tangga utama untuk meraih cita-cita luhur mereka.
Wahai para orangtua, jadilah Guru utama dan pertama bagi putra-putrimu!
Wahai para kawula muda, raihlah gemintang di dalam dirimu lewat spirit hidup yang bermakna!
Wolotopo/Ende, 25 Juni 2025

