“Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya…”
Kadang kala terbersit dalam pikiran saya, betapa bahagianya jika saya jadi salah seorang murid Yesus Kristus pada zaman dulu. Tentunya, saya dapat melihat Yesus yang hidup dan mendengar suara-Nya. Saya dapat mendengarkan sendiri pengajaran-Nya dan menyaksikan mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya. Saya dapat merasakan kedekatan-Nya dan bersukacita untuk kesempatan bersama-Nya.
Jadi bagian dari murid-murid Yesus yang pertama adalah suatu berkat istimewa. Tapi bertemu dan bersatu dengan Yesus dalam Ekaristi merupakan keintiman yang jauh lebih besar. Kedekatan-Nya jauh lebih akrab daripada yang dialami para murid-Nya dahulu. Ekaristi adalah karunia Allah yang terbesar dan berharga.
Ia memberikan sarana bagi kita untuk bersatu dengan Dia dalam cara yang paling memungkinkan: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, tinggal dalam Aku dan Aku dalam dia” (Yoh 6: 56). Dengan menerima Ekaristi, Ia tinggal dalam kita dan kita dalam Dia.
Sr. M. Sesilia L. P. Karm
Minggu, 22 Juni 2025
Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus
Kej 14: 18-20 Mzm 110: 1-4 1 Kor 11: 23-26; Luk 9: 11b-17
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

