“Pekerjaan, profesi, dan iman itu harus dibangun di atas fondasi yang kokoh agar tidak mudah goyah dan roboh, ketika dihempas badai.” -Mas Redjo
…
Saya prihatin, ketika tulisan saya disalah-pahami teman, tujuannya untuk Kristenisasi. Alasannya, saya sering mengutip ayat-ayat Injil.
Saya tersenyum menggoda, dan tidak terpancing.
“Menurutmu? Kau tertarik untuk pindah, ndak?!” gurau saya. AD menggeleng tegas. “Ya, syukur. Ndak perlu dipanjangin.”
“Tapi benar, kan…?!” desaknya penasaran.
“Semua itu bergantung kita yang menyikapinya. Tapi jujur, saya tidak mau jadi katak dalam tempurung.”
“Maksudmu?”
Saya menceritakan, sejak es-em-a saya getol membaca buku-buku rohani. Misalnya Thai Hak, salah satu dari empat kitab dalam agama Khonghucu; buku Hare Krishna: Bhagavad Gita dari kitab suci Hindu; Buku Pangestu (Paguyuban Ngestu Tunggal): ‘ngolah rasa di dalam rasa’; selain yang utama adalah Injil.
“Apakah saya tertarik pindah? Saya membaca buku rohani, karena ingin mengembangkan wawasan. Ke luar dari keegoan diri untuk menyerap hal-hal baik dan positif agar makin toleran serta menghargai sesama,” kata saya tenang, sambil melihat reaksi AD.
“Jika kau ndak tertarik membaca, ya, ndak usah dibaca. Kita harus mempunyai sikap nan kokoh, tapi tidak sensian, tendensius, dan berprasangka buruk pada orang lain agar tidak rugikan sesama, serta celakai diri sendiri.”
AD mendesah, lalu menunduk. Ia makin kikuk. Saya lalu mengajak AD untuk ngopi.
Bagi saya pribadi, menulis yang dilandasi Injil itu sejatinya untuk meneguhkan keimanan sendiri. Hidup untuk bersaksi. Sedang keteladanan itu harus dihidupi dalam keseharian agar makin mengakar kuat di hati, dan menghasilkan buah-buah kasih.
…
Mas Redjo

