“Tuhan, jika Engkau berkenan, Engkau dapat mentahirkan aku.”
Ungkapan kerendahan hati dan penuh iman dari orang kusta yang ingin disembuhkan Yesus (Luk 5: 12). Dia mengungkapkan yang jadi kerinduannya selama ini.
“The Savior and The Healer.”
Saat yang tepat, orang kusta itu berjumpa dengan Yesus. Waktunya Tuhan dan waktunya sudah bertemu.
Penyakit kusta itu telah melekat di tubuhnya lama sekali. Dari hari ke hari penyakit itu membuat tubuhnya jadi kotor dan bau. Dia tidak mampu membersihkan kekotoran dirinya, sehingga tersingkir dari keluarga dan tetangganya. Dia jadi nelangsa dan kesepian.
Yesus tidak hanya mengerti kata-kata yang telah diungkapkan, tapi “Jesus understands the pain of isolation and shame of one who has been segregated from the community.”
Jika ada sahabat yang kesulitan dan menderita, kita tidak hanya melihat dari luarnya, atau yang diungkapkannya, tapi kita juga harus memahami penderitaannya itu dengan hati.
Kita sadar bukan ‘the healer’, tapi saat berada bersama dengannya, dia jadi nyaman. Karena ada pribadi yang peduli dan memahami di saat dia sedang menderita.
Semoga kita ingat akan sahabat yang sedang menderita. Kita mempunyai waktu untuk berdoa dan menemaninya.
Kerinduan yang sedang sakit itu hanya satu, yaitu sembuh! Tidak nyaman saat sakit itu.
Jika ada teman di sekitar kita atau kita sendiri yang belum sembuh, hendaknya yang sakit itu berdoa kepada Yesus. “He is The Savior and The Healer.” Tidak boleh berhenti berdoa dan berharap, hingga waktu Tuhan dan waktu kita ketemu di saat yang tepat.
Jadilah tahir, karena hidup kita untuk bersaksi!
Rm. Petrus Santoso SCJ

