“Kesempatan emas itu tidak datang ke dua kali agar kita tidak mensia-siakan dan menyesalinya.” -Mas Redjo
…
Penyesalan yang amat sangat itu tersirat di wajah lelaki baya, AA yang tergolek tanpa daya di ranjang RS.
“Inilah buah yang aku pentik akibat dari perbuatanku,” keluh AA masygul dan wajahnya makin muram.
“Ndak boleh ngomong seperti itu. Lupakan masa lalu itu. Ingat anak-anak membutuhkanmu. Kau harus sembuh!” kata saya sambil memegang lengan AA yang makin kurus.
“Mungkinkah aku bisa sembuh?” gumam AA seperti ditujukan pada diri sendiri, ragu, dan bahkan hilang harapan.
“Mukjizat itu nyata bagi orang yang percaya dan mengimani-Nya,” kata saya meneguhkan hati AA. “Kau harus berdamai dengan diri sendiri, memohon ampun pada Tuhan, dan optimis. Tidak ada kata terlambat bagi seorang pejuang!”
Untuk pertama kali AA tersenyum tipis, tapi hal itu cukup melegakan hati saya yang sudah kedua kali ini membezoeknya.
Jika AA berputus asa adalah wajar. Hatinya didera oleh penyesalan. Ia merasa berdosa, karena mengkhianati istrinya yang meninggal dunia akibat ulahnya. Ia terjerat WIL, dan jarang pulang. Istrinya terkena serangan jantung, ketika ia pergi dengan WIL-nya.
Istrinya menulis surat agar AA menjaga anak-anak. Istrinya selalu memaafkannya, sedang ia lupa diri. Penyesalan itu yang membuat ia menghukum diri, karena merasa berdosa. Ia juga diphk, sebab sering bolos bekerja. Tubuhnya makin drop dan jatuh sakit. Dokter memvonis ia komplikasi: gagal ginjal dan gula! Ia makin putus asa. Apalagi uang tabungan makin menipis dan cicilan rumah juga menunggak. Beban hidup itu makin menumpuk berat dan membuatnya jadi ngap!
“Bro, saya makin ndak tahan. Dada sebelah kiri makin sakit. Maukah kau berdoa untukku…”
Saya manggut. Kami berdoa bersama anaknya yang besar.
Sebelum pamit saya meminta AA untuk menenangkan pikiran, dan istirahat.
“Jaga ya, Le, Bapakmu,” pinta saya sambil menepuk bahu anak AA.
Sebelum sampai di rumah, anak AA telepon memberi kabar, bahwa Ayahnya telah berpulang.
“Gusti nyuwun kawelasan. Ampuni dosa AA dan terimalah dia dalam kerahiman-Mu,” bisik saya lirih, lalu balik ke RS lagi.
…
Mas Redjo

