Yang pertama kali bisa menilai dan mengetahui, bahwa kita ini jahat adalah diri sendiri. Sebab, jika ada orang lain yang mengatakan diri kita ini jahat, maka sangat buruklah kita. Berarti keburukan dan kejahatan kita sudah diketahui oleh orang lain.
“Mengapa Anda menyimpan pikiran jahat?” (Matius 9: 3).
Pikiran jahat itu ada pada setiap pribadi, dan tidak ada yang seorang pun yang terhindarkan dari pikiran jahat itu. Kita semua mengalami hal itu: berpikir jahat tentang sesuatu, orang lain, atau tentang diri sendiri. Itulah sebabnya, yang bisa menilai, bahwa yang hendak dilakukan itu jahat atau tidak itu diketahui oleh diri sendiri.
Kita juga bisa menilai diri ini: kita ini sombong, ambisi, emosian, menjengkelkan, pendendam, dan mudah tersinggung atau tidak? Semuanya bisa diketahui oleh diri sendiri. Baik juga, setelah sadar kita mau dan bisa memperbaikinya. Jika sudah diketahui orang lain tentang sifat buruk dan kejahatan kita, maka cerita itu akan menyebar dan karakter kita terbunuh. Lalu dicap oleh A, “Si B itu jahat, sifatnya tidak baik, dan wataknya buruk. Lebih baik dihindari dan dijauhi. Jangan bersahabat dengan dia.”
Hal-hal yang jahat itu jadi tampak, ketika ada orang yang berbuat baik. Contohnya adalah Yesus. Yang dilakukan Yesus adalah perbuatan baik, tapi tetap disalahkan dengan banyak alasan. Itulah sifat dari orang jahat: selalu mencari-cari alasan untuk menyalahkan. Mungkin mereka jadi puas, jika bisa menyalahkan orang lain!
Lihat wajah dan bibir orang jahat itu! Wajahnya merengut dan masam. Bibirnya mecucu dan ndower. Jadi makin buruk dan jelek. Semoga kita tidak hobi nyinyir, karena pasti persahabatan dan persaudaraan kita jadi rusak.
Mari mulai sekarang kita sepakat untuk menghentikan segala kejahatan dari diri sendiri. Caranya? Saat kita tahu, bahwa yang kita pikirkan itu jahat tentang sesuatu, seseorang, atau tentang diri sendiri, mohonlah ampun pada Tuhan. Saat kita sadar itu, Tuhan akan berkata, “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni” (Matius 9: 2). Ya, kita disembuhkan dari pikiran-pikiran yang jahat. Setelah itu berdoa, bersyukur, dan berjanjilah untuk berbuat baik. Jika hal ini terus kita lakukan, kita akan jadi orang-orang yang berpikiran baik, positif, dan mudah menolong orang lain.
Jadilah saluran berkat Tuhan!
Rm. Petrus Santoso SCJ

