Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pintu yang tertutup
menyimbolkan harapan
yang terputus.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Penolakan secara Halus
Pernahkah Anda merasa ditantang oleh seseorang lewat ucapan, “Maaf saudara, pintu telah tertutup bagimu.” Apa yang Anda rasakan dan pahami lewat seruan yang terasa sangat mematikan itu? Sesungguhnya, apa yang dimaksudkan lewat tuturan yang sungguh menantang itu?
Bukankah di balik seruan itu, bahwa Anda sudah tidak berpeluang lagi untuk bergabung dengan lembaga itu? Ya, karena pintu itu telah ditutup untuk Anda. Kasarnya, bahwa secara tidak langsung, Anda telah ditolak untuk bergabung dengan lembaga itu.
Ada Pintu yang Terkuak Lebar di antara Pintu-pintu Tertutup
“Selalu ada celah pengharapan di balik daun pintu yang erat tertutup,” demikian tiupan angin segar di balik seruan yang sudah tidak berpengharapan. Bahwa di balik keputusasaan itu selalu saja ada celah pengharapan.
Dalam konteks ini, sikap orang yang mudah berputus asa itu bagaikan sang pembunuh berdarah dingin. Bagi mereka yang gampang berputus asa, hidup ini seolah-olah sudah tak ada lagi sinar matahari sebagai simbol pengharapan. Jika yang terjadi memang demikian, maka pantaslah untuk diratapi.
Hidup adalah Perjuangan, Kesempatan, dan Persaingan
Hidup kita ini seolah-olah telah diidentikan dengan bara api perjuangan, kesempatan, dan persaingan. Bukankah fenomena berupa idiom ‘pintu tertutup’ adalah sebentuk persaingan hidup?
Apakah sebuah persaingan hidup selalu diidentikan sebagai sebentuk kekalahan? Tidak! Faktanya adalah tidak demikian.
Karena bukankah di dalam arena suatu perjuangan dan persaingan hidup ini, justru selalu terbuka peluang untuk meraih sebuah kemenangan? Itulah yang dimaksudkan dengan ‘daun pintu yang terkuak lebar di antara pintu-pintu yang erat tertutup.’
Anda adalah Pemenang dan bukan si Pecundang
Sejarah hidup manusia telah membuktikan, bahwa di atas garis perjuangan hidup ini, selalu ada dan hadir baik para pemenang pun pecundang. Realitas dari keberadaan ini sangat bergantung dari mentalitas dan daya juang Anda sendiri.
Prinsip Hidup Ideal
“Siapa yang kuat,
dialah yang akan menang.
Siapa yang berpengharapan,
maka dialah yang akan
menerima rezeki berlimpah.”
Wolotopo/Ende, 18 Juni 2025

