“Saya bangga jadi pribadi egois, tapi egois pada diri sendiri dan tidak untuk orang lain.” -Mas Redjo
Hal itu yang sedang saya lakukan. Saya belajar untuk mengendalikan keegoisan itu tanpa kompromi, dan sepanjang hidup ini.
Egois pada diri sendiri! Caranya adalah saya tidak mau memberi makan dan minum pada keegoisan itu agar ia makin kekurangan gizi dan kurus kering!
Prioritas utama dan pertama yang harus saya lakukan adalah dengan berani mendulukan, mengalah, dan memahami orang lain.
Berat dan sulit itu pasti. Apakah kita mau dan mampu melakukannya?
Sejatinya hal yang berat dan sulit dilakukan itu, karena faktor utama adalah kita malas dan tidak mau melakukannya, alias egois. Faktor pendukung yang lain, karena kita sombong!
Kita tidak mampu, karena malas untuk melakukannya. Kita sombong, karena mengandalkan diri sendiri. Sebagai murid Tuhan Yesus, kita lupa dengan ajaran dan teladan-Nya, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Matius 16:24).
Dengan menyangkal diri, kita harus berjuang pantang menyerah untuk mengecilkan ego agar kekurangan dan kurus kering.
Dengan memanggul salib, kita mengasihi sesama itu tanpa sekat, alasan, dan tanpa kompromi. Kita ikhlas, karena Tuhan murah hati.
Percaya dan mengimani Tuhan itu totalitas. Kita berasal dari-Nya dan kembali kepada-Nya.
“Tuhan Yesus andanku!”
Mas Redjo

