“Membangun ekonomi keluarga itu hebat. Tapi lebih dahsyat itu, jika kita sukses membangun iman keluarga.” -Mas Redjo
Tidak harus diingkari, tapi lebih baik disikapi dengan rendah hati untuk mawas diri agar kita tidak salah memilih dan salah langkah. Karena menyesal belakangan itu tiada guna.
Fondasi iman keluarga saya adalah firman Tuhan: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak. Sebab di luar Aku, kamu tidak berbuah apa-apa” (Yoh 15: 5).
Fondasi iman itu yang membuat saya fokus untuk membangun keluarga yang didasari kasih untuk hidup rukun, guyup, dan bahagia.
Saya ingin membangun iman dan karier itu seiring sejalan dalam kebersamaan dengan seluruh anggota keluarga. Caranya, dengan mendisiplinkan kebiasaan baik keluarga dalam hidup keseharian, dan dimulai sejak dini agar iman itu mengakar kuat. Misal mengajar anak untuk berdoa dulu sebelum dan sesudah tidur, doa makan, berangkat dan pulang sekolah, dan seterusnya. Saya juga mengajari anak untuk sopan dan hormat pada siapa saja, terlebih pada orangtua.
Kebersamaan dalam keluarga itu saya bangun secara intens. Meski sibuk, saya berusaha mengatur waktu berkumpul dengan keluarga seminggu sekali; untuk makan atau ke luar bersama, tapi yang terutama untuk beribadah Minggu.
Ketika sibuk membangun usaha, saya meminta istri menggantikan peran saya dalam mendampingi anak. Saya juga minta diingatkan agar tidak lupa waktu dan lupa diri. Tujuan mengingatkan, karena kami peduli dan saling mengasihi.
Kepedulian itu juga kami terapkan dalam hidup keseharian anak agar mereka tahu diri dengan tugas dan kewajibannya serta bertumbuh jadi pribadi mandiri dan bertanggung jawab.
Dengan didasari iman yang kokoh dan saling mengasihi, kami percaya serta mengimani, bahwa rezeki kami bakal ditambahkan oleh Tuhan (Mat 6: 33-34).
Kebahagiaan sejati itu mengimani Tuhan dengan hati!
Mas Redjo

