Tuhan Yesus yang terkasih,
Aku tetap mengikuti-Mu dengan setia dalam panggilan kemuridan ini bersama dengan 1,4 Milyar saudara-saudariku dalam Gereja Katolik Roma. Saya tetap setia dalam panggilan kemuridan ini.
Awalnya tidak memilih, karena saya terlahir dalam keluarga Katolik. Kemudian semuanya berjalan dengan alami …
Saya mengikuti yang dilakukan oleh yang lain. Dalam doa Lingkungan, Ibadat Sabda dan perayaan Ekaristi itu jadi kesempatan bagi saya untuk berkumpul, berjumpa, bermain, bergembira, dan melayani. Hal ini jadi nostalgia yang indah. Kami semua akrab.
Saya menjalani yang diajarkan oleh Bapak, Guru agama dan kakak saya: cara berdoa, melayani dan cara mengasihi. Banyak hal yang saya jalani, melihat dari yang dijalani oleh Bapak dan keluargaku. Juga dasar-dasar iman Katolik
yang diajarkan oleh Guru agama saya.
Saya mempelajari setelah saya makin mengerti isi Kitab Suci. Saya jatuh cinta dengan kisah-kisahnya dan isinya. Saya terpesona dengan sejarah keselamatan yang terungkap di dalamnya. Saya mempelajari dari Kitab Suci, Tradisi Suci, dan buku-buku rohani lainnya. Pengalaman ini mendorong saya untuk terus mempelajari hingga kini, untuk belajar dan belajar. Bahkan, saya merasakan dari hari ke hari makin haus. Benar kata Erasmus, “Theology had only one purpose, which was to discover Christ.” Setelah ditemukan, Engkau harus kuikuti sampai ajal menjemputku.
Saya meresapkan dan menghidupi panggilan kemuridan ini. Bagi saya adalah sebuah hadiah yang sangat istimewa. “Saya ini Engkau panggil, pilih, berkati, bekali, utus, sertai, dan Engkau telah menetapkanku untuk jadi saksi-saksi-Mu di tengah dunia ini.”
Saya terus melanjutkan perjalanan kemuridanku ini dengan setia. Meski ada jalan lain, tapi itu bukan jalan saya. Ada pilihan yang lain, tapi saya sudah memilih yang satu ini dengan mantab hati untuk tidak tergoda oleh tawaran-tawaran yang lain. Sebab, pada akhirnya, berkat dari Bapa-Mu di Surga akan diberikan kepada mereka yang setia.
Saya terus berbagi pengalaman panggilan kemuridanku ini. Dunia telah menyediakan media dan lahannya. Saya belajar dari salah satu perumpamaan-Mu tentang seorang penabur agar saya terus menaburkan benih-benih sabda itu, pasti akan ditemukan lahan yang baik untuk bertumbuhnya sabda itu. Saya sungguh percaya akan penyelenggaraan Ilahi-Mu, Tuhan.
Tuhan Yesus yang terkasih …
Kadang saya jadi sedih, mengapa orang dengan mudah pergi meninggalkan panggilan kemuridan-Mu ini?
Mengapa orang dengan mudah memilih jalan yang lain?
Mengapa dengan mudah orang berpaling dari-Mu dan kemudian malah membenci-Mu?
Meski saya sedih, tapi saya tidak boleh nenghakimi, Tuhan.
Kadang saya tergoda untuk melawan, mengapa ada orang yang sungguh membenci-Mu dan para pengikut-Mu seperti diriku saat ini? Apa yang salah? Padahal yang Engkau ajarkan tentang cinta kasih. Lalu, apa yang sebenarnya mereka takuti sehingga sangat membenci?
Mungkinkah karena mereka tidak mengenal-Mu? Saya tergoda untuk melawan mereka, Tuhan. Tapi saya tidak boleh membalas, justru Engkau mengajari saya untuk mendoakan dan memberkati mereka.
Kadang saya banyak mempertanyakan tentang imanku, mengapa begini dan begitu? Mengapa harus melakukan ini dan itu? Mengapa dan mengapa? Hal itu terjadi, karena aku tidak mengerti atau tidak mau mengerti. Maunya melayani yang enak-enak. Tapi ternyata pertumbuhan iman tidak seperti itu. Masing-masing harus tahu caranya bertumbuh dan mempertanggung-jawabkannya.
Kadang saya merasa jadi murid-Mu itu berat sekali. Ada saja salibnya. Tapi dalam doa, adorasi, meditasi dan Ekaristi, Engkau mengajariku untuk setia dan tidak menyerah. Bahkan, ketika bebannya terlalu berat, Engkau mengundangku untuk belajar daripada-Mu, yang lemah lembut dan rendah hati.
Tuhan, banyak sekali yang bisa saya pelajari dari-Mu agar saya makin setia dalam menjalani panggilan kemuridan ini. Hanya Engkau yang dapat menyatukan setiap suku bangsa jadi dekat untuk saling nengasihi. Sebab, hati-Mu adalah hati yang selalu menyegarkan, menyembuhkan, dan menyemangati.
Terima kasih Tuhan, karena saya boleh mengenal-Mu dan diizinkan untuk terus mengikuti-Mu. Saya berjanji Tuhan untuk tetap setia. Juga saya berdoa untuk saudara-saudariku seiman, semoga mereka juga setia selamanya sebagai murid-murid-Mu.
Mohon berkat-Mu, Tuhan agar kami tetap setia untuk melayani-Mu.
Rm. Petrus Santoso SCJ

