Oleh: Fr. M. Christoforus BHK
Bambu air adalah bambu sepanjang kurang lebih 2 meter sebagai sarana untuk mengisi air minum.
Ini kenangan filosofis dan kearifan lokal yang hidup dalam ingatanku, dalam tradisi masyarakat di pulau Flores, NTT.
Di tahun 1960-an atau lebih awal dan mungkin hingga di awal tahun 2000-an, di Flores, di desa-desa masih terdapat tradisi mengambil air minum dalam jarak tertentu dengan menggunakan bambu-bambu air seukuran panjang sekitar 2 meter dan biasa dilakukan oleh para gadis atau Ibu-ibu.
Jelas dalam ingatanku, menjelang petang di jalan-jalan di desaku terdapat pemandangan unik dan menarik, karena tampak puluhan, bahkan beberapa puluh gadis bersama dan beramai menuju ke sumur atau mata air jernih dan bersih untuk mengambil air minum.
Air ini spesial untuk diminum, bukan untuk mencuci pakaian atau peralatan dapur.
Bayangkan, jika kita menyaksikan pemandangan unik itu, ketika ada yang datang dan ada pula yang baru pergi, lalu berpapasan di jalan desa.
Bahu para gadis dan para Ibu itu jadi sasaran empuk untuk meletakkan bambu-bambu air itu sambil berjalan dan atau sambil mengobrol.
Detiba di rumah, bambu-bambu air itu akan disandarkan atau ditempatkan di samping atau di belakang rumah.
Di saat air itu dibutuhkan, bambu-bambu itu akan dimiringkan untuk mengeluarkan air ke tempat yang lebih kecil, semisal panci atau rantang.
Tradisi ini mulai berkurang dan berubah, ketika hadirnya ember-ember plastik yang juga difungsikan sebagai alat pengisi air dan dijunjung atau dijinjing.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk kenangan dan kecintaan seorang anak desa terhadap tradisi unik di desanya.
Kapankah tradisi unik ini akan kembali kita saksikan? Saya kira, kisah ini akan terkubur selamanya seiring dengan perkembangan zaman dan dengan hadirnya sarana pengisi air yang lebih praktis dan bahkan canggih.
Selamat tinggal tradisi unik kearifan lokal di desaku, kenangan akan bambu-bambu air.
Ende, 16 Juni 2025

