Menilai orang lain itu gampang; apalagi kebanyakan yang diperhatikan hanya yang jeleknya. Namun, apakah kita juga rela untuk mengaca dan berani mengakui kekurangan sendiri? Hanya kalau kita ‘sadar diri’ dan berani mengakui kekurangan sendiri, kita membuka pintu untuk perubahan dan pertumbuhan.
Paulus mengingatkan kita untuk jadi ‘ciptaan baru’ dengan meninggalkan kebiasaan buruk dan menjalani hidup yang lebih baik dan benar.
Ingat, seburuk-buruknya sifat seseorang, pasti ada juga sisi baiknya. Jangan-jangan kita menilai buruk orang lain hanya karena iri dan dengki. Sebab itu, kita harus jujur terhadap diri sendiri, juga terhadap orang lain. Jangan hanya melihat kejelekan orang lain, tapi akui pula sisi baiknya.
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.”
Kebohongan hanya akan merusak hubungan kita dengan orang lain. Atau kalaupun di mata kita orang lain itu tidak ada baiknya sama sekali, belajarlah dari Yesus. la mengajarkan kasih yang tanpa syarat. Dia memberi kesempatan kepada kita, meskipun berdosa. Kasih ini harus juga jadi dasar dari setiap tindakan kita. Ketika kita menerapkan kasih dalam hidup kita, kita jadi agen rekonsiliasi dan kebenaran di dunia.
“Ya, Tuhan Yang Maha Pengampun, ajarilah kami untuk tidak hanya menilai jelek orang lain, tapi juga untuk mengakui dan menghargai sisi baik mereka. Bantulah kami untuk jujur terhadap diri sendiri dan orang lain, sehingga kami dapat hidup dalam kebenaran dan kasih-Mu. Amin.”
Ziarah Batin

