“Jika ya hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak” (Matius 5: 37).
Allah menciptakan manusia dengan akal budi dan hati nurani yang baik, supaya kita mengerti dan melakukan yang benar. Jadi, ketika seseorang melakukan kesalahan atau dosa, ia tahu dengan pasti, bahwa dirinya berdosa. Ia mengerti, bahwa cara hidupnya tidak baik. Ketika dia tetap menginginkan untuk hidup dalam dosa, dia akan mencari berbagai macam alasan untuk membenarkan dan memaafkan dirinya. Namun, tentu saja dia tidak dapat membodohi dirinya terus-menerus dengan cara seperti itu. Karena dia akan kehilangan kedamaian jiwanya, hidupnya tidak akan pernah tenang. Ia selalu dikejar rasa bersalah, bahkan hati nuraninya jadi tumpul atau sesat.
Seorang yang memiliki hati nurani yang tumpul dan sesat itu tidak akan memiliki kedamaian dan kebahagiaan sejati dalam hidupnya, sekalipun seolah-olah ia mendapatkan semua kesenangan duniawi. Namun sebaliknya, orang-orang yang mengikuti suara hati nurani, dengan kata lain selalu hidup dalam bimbingan Roh Kudus, akan memperoleh kebahagiaan dan kedamaian yang sejati.
Berliana Sinaga
Sabtu, 14 Juni 2025
2 Kor 5: 14-21 Mzm 103: 1-4.8-9.11-12 Mat 5: 33-37
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

