“Dia melihat kota itu dan menangis karenanya” (Luk 19: 41).
Dia menangisi yang terjadi dan yang telah dilakukan mereka. Sikap dan tingkah laku penduduk Kota Yerusalem pada saat itu, tidak menghadirkan damai. Seharusnya kota ini jadi tempat yang damai. Itulah sebabnya, pada saat itu Yesus meramalkan runtuhnya kota tersebut. Ini benar-benar terjadi di tahun 70 Masehi.
Tangisan! Telah jadi peringatan, simbol. Peringatan supaya kita tidak melakukan kejahatan lagi. Jadi simbol dari sebuah ungkapan kesedihan.
Tangisan itu membuat kita berhenti sejenak untuk merasakan dan sekaligus membebaskan yang mengganjal di hati ini. Biasanya, setelah menangis kita merasa plong, meskipun rasa sedih itu masih ada.
Kita menangis tidak sekadar sedih. Tapi dipengaruhi banyak faktor. Di antaranya, sedang banyak persoalan keluarga, beban pekerjaan, soal pelayanan, dan relasi dalam persahabatan. Di masing-masing area ini, persoalan yang muncul itu bervariasi, antara yang satu dengan lain itu berbeda. Itulah sebabnya, jika terlalu berat beban di hati, satu-satunya jalan itu dengan menangis.
Adakah di antara kita yang mudah membuat orang lain menangis? Yang seperti ini, jangan dilakukan lagi. Kita tidak boleh meniru sikap penduduk di Kota Yerusalem di zaman Yesus. Itu jahat, sehingga Yesus menangis. Jika membuat orang lain menangis, karena bahagia itu baik.
Karena itu:
Stop kekerasan, perbudakan, intimidasi, diskriminasi, fitnah, dan stop penghakiman yang tidak benar.
Kita jangan membuat banyak orang menangis dan menjerit, karena sedih.
Sahabat, berhentilah menangis dan mohon kekuatan dari Tuhan agar segala persoalan yang sedang kita alami itu segera dapat diselesaikan dengan baik.
Kita juga jangan mudah membuat orang menangis, karena kata-kata dan sikap kita yang tidak bijaksana. Cukup Yesus yang menangisi Kota Yerusalem, tidak menangisi sikap kita yang tidak baik pada sesama.
Alangkah indah dan melegakan hati, jika kita menangis itu bukan karena kesedihan, melainkan karena bahagia. Kita bahagia, karena saling mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan. Amin.
Rm. Petrus Santoso SCJ

