Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Semoga kita pun
sanggup hidup dalam
kasih persaudaraan sejati”
(Didaktika Hidup Sejati)
Si Bengkok Hati
“Tak ada hari tanpa pertentangan dan pemberontakan,” demikian sebuah statemen yang selalu menghiasi arena kehidupan bermasyarakat kita.
Adalah sebuah fakta yang sungguh menyesakkan dada batin kita, bahwa dalam arena hidup ini, ternyata selalu ada pertentangan dan pemberontakan.
Itulah pribadi-pribadi yang dijuluki oleh masyarakat sebagai si bengkok hati. Mengapa dijuluki demikian? Ya, karena dari dalam hatinya selalu saja terlontar kata-kata pedas yang menyakitkan hati siapa saja yang mendengarnya.
Tumbuhlah Onak dan Duri
“Homo homini lupus,” manusia yang satu dapat jadi seekor serigala bagi sesamanya, demikian sebuah adagium klasik yang mendeskripsikan suatu keadaan, bahwa ada sosok yang dalam hidupnya cenderung untuk mendominasi arena kehidupan ini lewat cara-cara yang dapat melahirkan pertentangan dan pemberontakan. Itulah sebuah kondisi hidup yang dideskripsikan sebagai ‘onak dan duri.’
Sang Pemberontak dan Keberadaannya
Kehadiran seseorang yang berkarakter pemberontak
ternyata bukanlah hanya sebagai sebuah julukan. Melainkan, riil pula, bahwa daya ledakannya sebagai ekses dari ekspresi keonaran hidupnya, justru dapat merusak ketenteraman arena hidup ini.
Di mana sang pemberontak itu berada, di sana akan terjadi kekacauan dan pertentangan hidup. Bahkan di dalam saku jubah kehidupannya, seolah-olah tersimpan bibit-bibit keonaran yang dapat menumbuhkan pertentangan dan pemberontakan.
Ternyata betapa getir dan naasnya suasana kehidupan ini sebagai dampak langsung dari kehadiran serta keberadaan sang pemberontak ini.
Refleksi
“Siapakah sejatinya sang pemberontak itu?”
“Ya, jangan-jangan, Anda dan saya adalah si dia itu!”
Wolotopo/Ende, 13 Juni 2025

