Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ketika bebatuan alam
pun turut melunak kala
ditetesi air.”
(Suara yang Humanis)
Kerasnya Dunia Kita
Dunia kita dan seisi alam ini diciptakan oleh Sang Maha Kasih dan Sang Maha Lembut Hati. Namun ironisnya, karena dunia ini tidak jarang dihantui, dilumuri oleh darah, ratapan menyayat, dan berurai air mata sebagai dampak dari aneka aksi teror serta kekerasan.
Ternyata hati kita, manusia yang adalah citra dari Sang Maha Cinta ini, justru telah mengeras ibarat bebatuan alam.
Ketika Bebatuan dapat Melunak
Secara alam, ternyata bebatuan cadas karang pun sanggup melunak dan bahkan dapat tercabik-cabik, tatkala sering dan terus ditetesi si lembut air. Namun tidaklah demikian dengan isi hati kita manusia.
Bahkan tatkala dunia kita menggeleng-gelengkan kepala tanda tak percaya, pada kerasnya hati sang Hitler, Pemimpin Nazi Jerman, yang karena keras hatinya, maka jutaan manusia telah meregang nyawa. Itulah sejarah hitamnya dunia, sebagai akibat dari kerasnya hati manusia.
“Kepala sama hitam, tapi hati kita masing-masing,” demikian sebuah peri bahasa bangsa kita. Ya, sungguh benar. Sejatinya, kita tidak mampu menduga dan bahkan mengukur kualitas serta isi hati seorang anak manusia.
Juga ibarat sebuah peri bahasa, “Dalamnya laut dapat diduga, namun dalamnya hati manusia, siapa yang tahu.” Misteri gelap dan dalamnya isi hati seseorang, tentu hanya Tuhan saja yang mengetahuinya.
Untuk Direfleksikan
Tulisan ini saya turunkan untuk direfleksikan bersama dalam konteks “betapa keras hati” seorang anak manusia yang bahkan tidak sanggup untuk diluluhkan.
Inilah saat dan kesempatan yang paling strategis untuk kita renung refleksikan bersama. Apa ‘akar dan alasan mendasar’ dari kerasnya hati manusia.
Tatkala bebatuan cadas karang telah sanggup melunak dan memecah, tapi mengapa justru kian mengerasnya hati kita manusia?
Apakah untuk melunakkan hati manusia itu dibutuhkan tanda-tanda keajaiban lagi, seperi yang pernah terjadi di zaman Raja Fir’aun di Negeri Mesir?
Jika memang harus demikian, maka sesungguhnya, kita laksana fir’aun-fir’aun baru yang tidak kalah buasnya.
“Sang manusia, siapakah engkau, hingga dapat bertingkah demikian?”
Wolotopo/Ende, 11 Juni 2025

