“… bagaimana Tuhan berkata kepadanya, Akulah Allah, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Dia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup” (Markus 12: 27).
Benar! Allah yang dipercayai dan yang kepada-Nya, kita menyembah adalah Allah yang hidup. Allah yang hidup dapat kita alami …
- Hari baru ini: Hari Senin. Kita bangun tidur dan bersyukur kepada Tuhan, karena diberi kehidupan. Berterima kasih, karena kita bisa bernafas dengan tubuh yang segar dan sehat.
- Hati yang menyembah: Disiplin berdoa sebelum kita melakukan aktivitas yang lain. Sembahlah Tuhan dari ruang pribadi dalam intimasi agar Dia sertai dan pimpin kita menjalani hari penuh sukacita.
- Kisah hidup hari ini: Baik yang terencana atau belum terencana. Semoga dilancarkan semuanya. Kita bertemu dengan orang-orang yang baik, mendapatkan banyak kebaikan, dan bisa berbuat baik. Kita sedapat mungkin melakukan hal-hal yang baik saja.
- Berdamai dengan diri sendiri: Jika kita harus memintai maaf, dan sudah siap, mintalah maaf. Tidak usah menyimpan hal-hal yang menyakitkan dan membebani. Sebab hidup yang dihidupi dengan rasa sakit itu membuat kebahagiaan kita digerogoti, sehingga tidak pernah ada damai. Gambaran Allah yang hidup juga jadi kabur.
- Kurangi bertanya: Mengenal Allah tidak usah merasa hebat bisa menjelaskan ‘ini’ dan ‘itu. Bertanya saja pada diri sendiri, “Sudahkah kita mengalami kehadiran-Nya?” Jangan karena sibuk bertanya dan ingin dikatakan paling hebat di mata teman-teman, tapi tidak pernah menyembah Tuhan dengan benar. Padahal Dia adalah segalanya. Segala sesuatu bisa dan telah dijadikan-Nya (bacalah Kitab Ayub).
Allah yang hidup, itulah Allah yang kita miliki. Kenalilah Dia, hari ini dan selamanya, hingga kita tidak bisa bernafas lagi. Amin.
Rm. Petrus Santoso SCJ

