Allah yang Hidup

“… bagaimana Tuhan berkata kepadanya, Akulah Allah, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Dia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup” (Markus 12: 27).

Benar! Allah yang dipercayai dan yang kepada-Nya, kita menyembah adalah Allah yang hidup. Allah yang hidup dapat kita alami …

  1. Hari baru ini: Hari Senin. Kita bangun tidur dan bersyukur kepada Tuhan, karena diberi kehidupan. Berterima kasih, karena kita bisa bernafas dengan tubuh yang segar dan sehat.
  2. Hati yang menyembah: Disiplin berdoa sebelum kita melakukan aktivitas yang lain. Sembahlah Tuhan dari ruang pribadi dalam intimasi agar Dia sertai dan pimpin kita menjalani hari penuh sukacita.
  3. Kisah hidup hari ini: Baik yang terencana atau belum terencana. Semoga dilancarkan semuanya. Kita bertemu dengan orang-orang yang baik, mendapatkan banyak kebaikan, dan bisa berbuat baik. Kita sedapat mungkin melakukan hal-hal yang baik saja.
  4. Berdamai dengan diri sendiri: Jika kita harus memintai maaf, dan sudah siap, mintalah maaf. Tidak usah menyimpan hal-hal yang menyakitkan dan membebani. Sebab hidup yang dihidupi dengan rasa sakit itu membuat kebahagiaan kita digerogoti, sehingga tidak pernah ada damai. Gambaran Allah yang hidup juga jadi kabur.
  5. Kurangi bertanya: Mengenal Allah tidak usah merasa hebat bisa menjelaskan ‘ini’ dan ‘itu. Bertanya saja pada diri sendiri, “Sudahkah kita mengalami kehadiran-Nya?” Jangan karena sibuk bertanya dan ingin dikatakan paling hebat di mata teman-teman, tapi tidak pernah menyembah Tuhan dengan benar. Padahal Dia adalah segalanya. Segala sesuatu bisa dan telah dijadikan-Nya (bacalah Kitab Ayub).

Allah yang hidup, itulah Allah yang kita miliki. Kenalilah Dia, hari ini dan selamanya, hingga kita tidak bisa bernafas lagi. Amin.

Rm. Petrus Santoso SCJ