Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ternyata, harimau pun dapat hidup nyaman di dalam hati manusia!”
Adagium dasyat, … “Mulutmu, Harimaumu”
Filosofi hidup adalah ekspresi kedalaman intuisi tajam dari sang manusia.
Kadangkala, seorang manusia dapat mengekspresikan kebrutalan seekor harimau di dalam tindakan kesehariannya.
Hal ini, tentu sebagai ekses dari praktik proses pendidikan di dalam keluarga. Keluarga, yang tanpa disadarinya, telah menumbuhsuburkan naluri kebinatangan di dalam hati anak.
Keluarga yang sering membiarkan anak bertumbuh dengan membawa naluri buas seekor harimau.
Keluarga yang tidak harmonis, dengan mempraktikan hidup lewat adegan-adegan kekerasan, persaingan, sikap balas dendam, dan penerapan hukum rimba.
Di sini, persemaian subur tempat anak akan bertumbuh perkasa bak seekor harimau lapar.
Jadi, tanpa disengaja, juga mungkin tanpa disadari, sesungguhnya, keluarga itu telah membesarkan seekor harimau di dalam sanubari anak.
Keluarga itu, telah memelihara seekor harimau di dalam hati anak, dan anak bertumbuh dengan karakter buas bagai seekor harimau.
“Jika kita rajin menanam angin, maka, kita pun akan puas menuai badai.”
…
Wolotopo, Ende, 9 Juni 2025

