“Perubahan itu abadi, karena anugerah Tuhan senantiasa baru.” -Mas Redjo
Saatnya kita refleksi dan menjawab dengan jujur, “Apakah hidup kita dari hari ke hari makin baik dan benar?”
Kita melihat dari perubahan hidup sendiri, sejak dalam kandungan Ibu, lahir, dan hingga saat ini.
Banyak di antara kita ingin jadi yang terbaik, hebat, dan berprestasi itu manusiawi. Faktanya kita unjuk kemampuan, karena ingin diakui. Kita lupa diri, bahwa sejatinya hasil pencapaian itu sebagai karunia Tuhan agar kita tidak sombong, tapi rendah hati.
Begitu pula dengan saya. Ternyata perubahan taraf hidup dan ekonomi keluarga yang makin membaik itu tidak identik hidup saya jadi benar. Karena tidak ingin diremehkan dan dihina, saya ingin membuktikan diri dan menunjukkan pada mereka. Bahwa mereka salah dalam menilai saya!
Sadar diri, bahwa hasil pencapaian dan prestasi itu sebagai karunia kasih Tuhan agar saya tidak membesarkan keegoan diri, tapi mengecilkannya, dan rendah hati.
Pola pikir yang salah kaprah itu lalu saya buang jauh-jauh. Karena saya ingin hidup baru, yakni dengan menyangkal diri, memanggul salib, dan mengikuti Yesus. Dari semula hidup ini untuk diri sendiri, kini untuk dibagikan pada sesama.
Perubahan pola pikir yang drastis itu terjadi, karena hati saya dijamah Roh Kudus, teristimewa di Hari Raya Pentakosta ini.
Perubahan itu harus saya hidupi dengan komitmen, konsekuen, dan konsisten untuk meneladani Yesus. Dari sejuta nasihat jadi aksi nyata, dan tanpa publikasi. Dari sekadar mencari pengakuan menuju ke pemaknaan hidup agar berkenan bagi Tuhan.
Selamat Hari Raya Pentakosta!
Mas Redjo

