Simply da Flores
1.
Kami butuh guru dan alat tulis
Bukan senjata dan peluru
Karena kebodohan mencabut harkat martabat
Karena penindasan dan ketidakadilan juga dilahirkan kebodohan
Jangan bicara HAM kepada kami
ketika orangtua dan saudara kami mati diberondong senjata
sumber daya alam kami terus dikuras
Wajah ham kami merana
dilumur darah luka bernanah
Penuh tanya abadi dan tragis
dalam ketakutan tak berujung
2.
Di sekolah kami diajarkan hak anak
Hak untuk hidup
Hak mendapat perlindungan
Hak untuk bertumbuh kembang
Hak untuk berpartisipasi
Namun…
orangtua kami tergusur dan terusir
ada yang kena PHK sebagai buruh
Banyak yang terus menganggur
harga barang makin mahal
Kami harus berhenti sekolah dan sulit makan
Jemari kami tak mampu melukis wajah HAM
Mulut kami anak-anak tak mampu bicara HAM
Siapakah pemilik HAM di negeri ini?
3.
Ada generasi muda penuh semangat
berorasi dan berdemonstrasi
di jalanan dan kantor pemerintah dan DPR
Mereka beberkan kasus lara derita rakyat
Mereka menuntut jaminan HAM
Bahkan mereka datangi kementerian HAM
adukan aneka kasus di negeri ini
termasuk di tanah asal sang menteri
Namun
wajah HAM tak mampu dilukis pasti
karena setiap pihak mempunyai definisi
Mungkin
Sosok wajah HAM seperti pelangi
aneka warna dan terjadi sesekali
kecuali kalau dengan kreasi teknologi
bisa hadir setiap hari
4.
Para seniman coba melukis wajah HAM
aneka kreasi mimpi dan imajinasi
dilahirkan sebagai karya seni
sedangkan wajah damai dan keadilan karena penegakan hukum dan HAM tidak ditemukan
Para tokoh adat membuat aneka ritual
agar bisa hadir sosok wajah HAM
namun hutan terus dibabat dan sumber daya alam makin dikuras
Bahkan tanah adat dan tempat ritual ludes digusur
Para tokoh agama berdoa sambil ajarkan moralitas
namun fakta kejahatan, korupsi dan derita lara rakyat makin berderet
Padahal semua warga beragama
para pejabat publik bersumpah jabatan
Sosok wajah HAM makin sulit ditemukan

