COVID- 19 memang sudah usai, tapi kenangannya masih membekas di kepala kita. Kalau kita ingat kembali saat itu, pandemi COVID-19 telah membuat banyak orang seperti tahanan di rumah sendiri. Kebijakan karantina dan ‘lockdown’ yang diterapkan sebagai respons terhadap pandemi itu telah menyebabkan interaksi sosial kita jadi sangat terbatas.
Hari ini, kita mendengar cerita tentang pengalaman Paulus sebagai tahanan rumah, yakni berada dalam pengawasan. Uniknya, meskipun terbatas dalam geraknya, ia tetap menggunakan waktu tersebut untuk meneruskan pelayanannya, yaitu menulis surat-surat kepada umat dan memberikan pengajaran kepada para pengikut Kristus. Ada beberapa surat Paulus yang kita kenal sampai hari ini ditulisnya, ketika ia masih berada di dalam penjara dan jadi tahanan rumah. Teladannya mengajarkan kita, bahwa tidak peduli di mana kita berada atau tantangan yang sedang kita hadapi, kita dipanggil untuk berani memberitakan Kabar Baik dari Tuhan.
Berbeda dengan Paulus yang terlihat konsisten dengan panggilannya sendiri. Petrus justru ditegur oleh Yesus, karena sibuk mempertanyakan nasib Yohanes. Yesus mengingatkan Petrus, bahwa ia dipanggil untuk mengikuti-Nya dan tidak perlu khawatir tentang nasib orang lain.
Pesan Yesus kepada Petrus ini jadi pengingat, bahwa setiap orang memiliki panggilan dan tugas yang unik dalam melayani Tuhan, yakni fokus itu harus pada pelaksanaan panggilan tersebut, bukan pada yang Iain.
“Tuhan Yesus, kuatkanlah kami agar tidak terpengaruh oleh kekhawatiran atau keraguan, tapi hidup dengan keyakinan yang teguh dalam kehendak-Mu. Amin.”
Ziarah Batin

