“Tidak harus diingkari. Coba bertanya pada diri sendiri, apakah kita hafal nama anak-anak dari keluarga kakak atau adik sendiri?” -Mas Redjo
…
Tidak harus malu dan terlambat, untuk mengingat semua itu dengan baik, lalu merajut tali silaturahmi itu kembali agar tidak putus, dan kita tidak ‘kepaten obor’.
Kita tidak harus mengemukakan alasan lain untuk pembenaran diri, karena rugi sendiri. Ketika putus tali persaudaraan itu, dipastikan sulit untuk dirajut kembali.
Hal itu saya lakukan agar tidak ‘kepaten obor’, yaitu terputusnya tali persaudaraan antara keluarga dari pihak Ibu dan Ayah. Ibu berasal dari Kediri, Jawa Timur dan Bapak dari Purworejo, Jawa Tengah.
Persaudaraan yang telah lama tidak dirajut itu sulit dilacak, ditelusuri, dan disatukan lagi. Karena kendala tempat tinggal yang berjauhan, biaya transportasi mahal, banyak famili yang merantau ke luar kota atau Jawa, dan sibuk dengan urusan masing-masing.
Sadar diri, saya tidak mau ‘kepaten obor’ dan putus persaudaraan itu dengan keluarga dekat. Saya lalu mengajak anak-anak untuk membangun kepedulian itu dari hal-hal yang sederhana. Saya meminta anak untuk membuat grup WA perseduluran, mengucapkan salam hormat pada mereka yang dituakan, khususnya pada hari-hari spesial: keagamaan, ulang tahun, dan sebagainya. Selain di grup WA, juga langsung ke hp mereka yang bersangkutan, karena kita peduli dan menghormatinya.
Dulu, jika berkunjung ke saudara itu dapat dilakukan dengan naik bus, kereta, atau kendaraan lain. Selain jarak jauh, biaya mahal, dan waktu tempuhnya lama, karena sarana transportasi saat itu belum semaju sekarang ini.
Kini dengan makin canggihnya sarana digital itu memudahkan kita untuk menjalin silaturahmi dengan famili. Menyingkat jarak, waktu, dan biaya murah. Bahkan kita dalam ‘video call’ rame-rame dalam suatu grup.
Saatnya kita buang jauh-jauh istilah ‘kepaten obor’ itu. Dengan teknologi digitel, semua ada di dalam genggaman kita.
Selalu ada dan hadir dengan hati, karena kita dibingkai dalam hidup persaudaraan untuk saling menolong dan menyayangi!
…
Mas Redjo

