Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Bila hujan turun ke bumi,
rasa sangat pilu di hati,
pada saat sunyi begini,
kuteringat padamu.”
(Syair sebuah Lagu)
Proses Terjadinya Hujan dan Makna Spiritualnya
Berdasarkan proses secara alam, hujan alias rintik-rintik hujan itu terjadi, karena tumpukan uap air yang naik ke atas langit. Dampaknya terjadilah mendung yang akhirnya turun akan ke bumi berupa butiran-butiran air. Itulah hujan.
Lewat tulisan reflektif ini, penulis mau merefleksikannya dari aspek kerohanian dan spiritual. Dari sebuah sudut kehidupan manusiawi kita yang sesungguhnya sangat kaya untuk direfleksikan.
Air Hujan itu Rahmat
Hujan itu turun ke bumi, laksana “berkat rahmat Tuhan yang membasahi nurani gersang manusia yang kering sebagai akibat dari dosa.”
Air itu adalah simbol dan tanda istimewa: tanda keselamatan, pembersihan, serta pemuasan dahaga jiwa. Ya, air akan sanggup mengubah segala-galanya. Air pun sanggup membersihkan tubuh dan memuaskan dahaga jiwa manusia dari segala kotoran serta kehausan.
Ingatkah akan syair suci ini, “Laksana rusa mendamba air, jiwaku rindu pada-Mu Tuhan.”
Bila Hujan Turun
Bila hujan turun ke bumi, maka tanah tempat pijakan tumit kita ini akan basah dan terasa sangat menyegarkan tubuh. Rerumputan akan meriap dan benih-benih tetumbuhan pun bertumbuh subur. Alam semesta seolah disirami air rahmat yang menenangkan hati dan menyegarkan jiwa manusia.
Hujan adalah simbol dari kebaikan dan kasih Tuhan yang selalu setia menyertai manusia untuk menumbuhkan kembali jiwa yang kerdil serta kerontang sebagai akibat dari dosa-dosa manusia.
Rerintikan air hujan yang menggenangi bumi dan bunyi lembut yang ditimbulkannya itu mengingatkan kita akan percikan air suci yang dicurahkan ke dalam hati manusia.
Sungguh, bila hujan turun ke bumi, ada rasa pilu di dada fana nan sunyi ini dan bahagia yang menyelimuti kerontang jiwa manusia.
Marilah membuka hati dan jiwa kita untuk menerima rahmat serta kasih Tuhan, laksana rusa yang sungguh merindukan air.
Kita pun laksana kawanan rusa kehausan yang mengitari sumber air sejati.
“Lava Bo”
Tuhan, sucikanlah jiwa cemarku dan bersihkanlah segala debu dosaku!
Wolotopo, Ende, 6 Juni 2025

