Oleh: Fr. M. Christoforus BHK
“Pelangi-pelangi alangkah indahmu, merah, kuning, hijau, … pelukismu agung, siapa gerangan, pelangi-pelangi ciptaan Tuhan”
Ternyata, tidak sedikit manusia di bumi yang melantunkan lagu Pelangi. Manusia memuji indahnya sang Pencipta, justru karena terpukau pada keindahan tata warna pelangi.
Namun, di balik itu, ternyata, kehadiran Sang Maha Memukau itu, terselip juga sepenggal aspek historisnya.
Dahulu kala, konon, tata warna di bumi maya ini pernah bertengkar. Mereka asyik mempertontonkan keadidayaannya masing-masing.
Namun, kala dihardik gelegar dasyat sang petir, mereka toh, hanya bermental krupuk.
Sang ‘hijau’ mengklaim, dirikulah yang paling utama, karena akulah sang hidup. “Tanpa aku, tidak ada kehidupan.”
Sang ‘biru’ tidak kalah pongah mengklaim, tanpa langit dan laut nan membiru, tidak akan ada kehidupan. “Kamilah peneduh kehidupan ini.”
Sang ‘kuning’ tidak kalah gertak, mengklaim, bukankah mentari dan sang rembulan telah menyimbolkan betapa digdayanya kami? “Kamilah, penerang siang dan malam,” betapa kami telah membawa suasana damai serta romantika hidup ke atas bumi ini.
Sang ‘merah’ bernyala keangkuhannya. Tanpa aku, tak ada kehidupan. “Aku yang mengalirkan darah kehidupan, simbol keberanian dan cinta.”
Sang ‘ungu’ juga tidak mau tertinggal pamer diri. “Aku ini adalah sang aristokrat dan kokoh.” Bukankah Raja, Ratu di bumi juga telah meminjam pakaian keagunganku demi menyelimuti keagungan mereka.
Pertengkaran melombakan kehebatan personal itu, rupanya sulit diredakan.
Alam semesta ini memang sungguh dasyat. Alamlah yang sanggup mengakhiri kepongahan karakter para warna itu.
Kala petir dasyat menggemuruh, maka berhamburan dan saling mendekatlah mereka.
Akhirnya, terbentulak sang pelangi!
Ternyata, mereka toh, hanya bermental ‘krupuk’ kentang yang gampang remuk berantakan.
“Manusia, oh… manusia, ternyata, betapa remuk engkau!”
Ende, 3 Juni 2025

