Oleh: Peter Suriadi
Saudara-saudari terkasih,
Dengan gembira saya bergabung denganmu dalam doa Vigili di akhir Bulan Mei ini. Doa ini merupakan sebuah sikap iman yang kita gunakan untuk berkumpul dengan cara yang sederhana dan penuh kesalehan di bawah naungan keibuan Maria. Tahun ini, doa ini mengingatkan kita akan beberapa aspek penting dari Tahun Yubileum yang kita rayakan: pujian, perjalanan, pengharapan, dan terutama, iman yang direnungkan serta diwujudkan bersama.
Kamu telah mendaraskan Rosario Suci bersama-sama: sebuah doa, sebagaimana ditekankan Santo Yohanes Paulus II, dengan wajah Marian dan hati kristologis, yang “memusatkan kedalaman seluruh pesan Injil” (Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae, 16 Oktober 2002, 1).
Sesungguhnya, dengan merenungkan Misteri Gembira, selama perjalanan yang telah kamu tempuh, kamu telah masuk dan berhenti, seolah-olah sedang berziarah, di banyak tempat dalam kehidupan Yesus: di rumah Nazaret merenungkan Kabar Sukacita, di rumah Zakharia merenungkan kunjungan Maria – yang kita rayakan hari ini, di gua Betlehem merenungkan Natal, di Bait Suci Yerusalem merenungkan persembahan dan kemudian penemuan Yesus. Kamu telah ditemani, dalam doa Salam Maria yang didaraskan dengan iman, oleh kata-kata Malaikat kepada Bunda Allah: “Salam, hai Engkau yang dikaruniai! Tuhan menyertai engkau” (Luk 1: 28), dan oleh kata-kata Elisabet yang menyambutnya dengan sukacita: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1: 42).
Dengan demikian, langkah-langkahmu, telah ditandai oleh Sabda Allah, yang telah menandai, dengan iramanya, kemajuan, pemberhentian dan keberangkatan, seperti halnya orang-orang Israel di padang gurun, dalam perjalanan mereka menuju Tanah Terjanji.
Marilah memandang keberadaan kita sebagai sebuah perjalanan dalam mengikuti Yesus, yang harus ditempuh, seperti yang telah kita lakukan malam ini, bersama-sama Maria. Marilah kita memohon kepada Allah untuk memahami bagaimana memuji-Nya setiap hari, “dengan hidup dan lidah, dengan hati dan bibir, dengan perkataan dan perilaku” (Santo Agustinus, Khotbah 256, 1), menghindari perselisihan: lidah selaras dengan hidup dan bibir dengan hati nurani (lih. idem).
Saya menyapa para Kardinal, para Uskup, para Imam, para Imam yang baru ditahbiskan, dan seluruh umat yang hadir. Saya ingin menyampaikan, khususnya, kasih sayang dan rasa terima kasih kepada para Suster Benediktin dari Biara Mater Ecclesiae, yang dengan doa-doa tersembunyi dan terus-menerus mendukung komunitas dan karya kita.
Semoga sukacita saat ini tetap ada dan tumbuh dalam diri kita, “dalam kehidupan pribadi dan keluarga kita, dalam setiap lingkungan, terutama dalam kehidupan keluarga ini yang di sini di Vatikan melayani Gereja Universal” (Benediktus XVI, Penutupan Bulan Maria, 31 Mei 2012).
Semoga Allah memberkati dan menyertai kita selalu dan semoga Maria menjadi perantara kita. Terima kasih!
Bapak Peter Suriadi

