Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tatkala senja tiba,
maka semesta pun
akan bernyanyi girang.”
(Suara Alam Semesta)
Kidung Semesta
Semesta raya ini, ternyata tidak saja mampu mengajarkan kebjaksanaan hidup kepada insan manusia, tapi juga mengidungkan nyanyian indah.
Segenap isi alam ini akan bernyanyi girang mengumandangkan kidung pujian demi memuliakan nama Sang Pencipta-Nya.
Tatkala Senja Tiba
Tatkala senja tiba, maka dari atas pematang sawah akan terdengar kidung pujian indah bersahut-sahutan dari rombongan kodok. Tak ketinggalan tampak gemulainya liukan kepak camar berseliweran di bibir pantai menerawang. Di kaki langit pun tampak sang gemawan beriringan indah menuju ke peraduan malam.
Terdengar pula aneka madah pujian yang mengalir indah dari mulut insan-insan manusia yang mengumandangkan pujian senja dari lancip menara masjid, gereja, pura, dan wihara.
Tidak ketinggalan, terdengar pula betapa gemuruhnya deburan gelombang yang menghempas manja di atas bebatuan pantai. Itulah suara nyanyian kidung senja dari sang semesta.
Di saat itu pula perlahan, semesta akan tampak sunyi, seolah diselimuti oleh tipis gemawan yang lembut membuainya. Kini, seluruh isi semesta akan larut dalam sunyi malam. Itulah deskripsi suasana semesta di kala senja tiba.
Di kala seluruh isi semesta ini kian terlelap, maka sunyi bumi pun seolah ikut terkubur di balik lembut selimut malam semesta.
Itulah deskripsi tentang betapa syahdu dan indahnya nyanyian semesta di kala senja tiba.
Dari bibir para insan akan berkumandang kidung pujian yang mengalir dari bibir yang penuh syukur.
Deo Gratia!
Wolotopo, Ende, 2 Juni 2025

