Simply da Flores
…
1.
Zaman berubah dalam deru roda waktu
Wajah metropolitan semakin maju
salah satunya di trotoar ada bangku
entah dari besi atau kayu
Aku pun tak tahu
mengapa suka berhenti dan duduk di bangku
Entah saat pagi fajar merekah
Entah berteduh di siang terik
Entah ketika ramai di senja tiba
Entah waktu malam diterpa gemerlap cahaya
2.
Bangku-bangku trotoar metropolitan
diterpa terik dibalur debu dan asap kendaraan
Mereka setia mengawal musim siang malam
Ada yang ditiduri gelandangan, pengemis dan pemulung
Bahkan ada yang dicorat-coret tangan jahil
serta dirusak aneka kemarahan
entah apa alasan dan sebabnya
Mereka hanya diam terpaku
mencatat perilaku setiap manusia
lalu mengadu pada debu tanah dan angkasa
3.
Bangku-bangku trotoar metropolitan
terbiasa merekam suka duka insani
karena yang datang menduduki
tak pernah dipaksa dan dibatasi
Entah mereka yang miskin gelandangan
Entah yang bekerja dan berjabatan
Entah yang kaya dan berkelimpahan
Entah orang kampung atau kota
Entah pribumi atau orang asing
Entah anak, remaja, dewasa atau tua renta
4.
Dari bangku-bangku trotoar kota metropolitan
Aku belajar banyak kisah suka duka
Ada diam dan kepasrahan pada nasib
Ada ketabahan hadapi aneka fakta
Ada perjuangan memberi fungsi manfaat
Ada keheningan merekam makna arti
Ada keikhlasan pada keterbatasan ruang dan waktu
Ada kerendahan hati tak bertepi
Ada kejujuran di hadapan bumi dan angkasa
Karena bangku-bangku ini ciptaan kreasi manusia

