“Jadilah seperti orang bijak yang membangun rumahnya di atas batu” (Matius 7: 24). Batu jadi simbol dari kekuatan, kekokohan, keteguhan, dan kemantaban. Simbol dari ‘Solidity and Stability’.
Iman itu harus kuat! Tidak mudah goyah, ragu, dan goncang. Tapi harus kokoh, teguh, dan mantab. Iman itu tidak mudah berubah, tapi harus padat dan stabil!
Konon, paling mudah itu yang tidak beriman. Karena tidak memikirkan apa-apa, tapi apa iya, belum terbukti juga. Faktanya, banyak orang yang gelisah, ketika sedang banyak masalah dan sakit. Banyak orang jadi takut, ketika mendekati kematiannya. Mengapa? Hatinya kosong.
Iman sejati itu harus diperjuangkan, dipelihara, dihidupi, dan dipertanggung-jawabkan. Yesus berbicara tentang iman yang kokoh itu dibangun di atas batu. Artinya, kita membangun kehidupan ini harus di atas fondasi imam yang kokoh.
Kita tahu, bahwa iman itu pilihan dan memilih. Kita jangan sekadar memilih, tapi lalu tidak dihidupi. Jangan memilih, tapi kemudian tidak bisa menjalani. Kita tidak bisa menghayati imannya sendiri.
Iman adalah pondasi untuk hidup baik, benar, dan suci. Jika iman itu tidak bisa menghantar dan menuntun kita pada ketiga hal itu, berarti ada sesuatu yang tidak berfungsi dengan baik. Mungkin ini yang terjadi, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Surga” (Matius 7: 21).
Benar! Iman itu tidak hanya di bibir dan diucapkan, tapi harus dihidupi. Yang menjalaninya adalah pribadi yang beriman kokoh, dan tidak mudah berubah-ubah. Iman itu bukan sebuah permainan. Melainkan ketaatan dan kesetiaan kita pada kehendak Tuhan.
Iman yang kokoh itu harus dibangun di atas batu karang (Matius 16: 18).
Rm. Petrus Santoso SCJ

